The world is a magnificent marketplace of enriched and rewarding options waiting to be tested
Monday, November 11, 2013
Black Tea
Sunday, November 10, 2013
Lets focused on Tea Genmaicha
Genmaicha
Genmaicha is a type of tea made by mixing sencha orbancha with toasted rice. Though there are different types, 1:1 ratio of toasted rice and bancha is regarded as the standard genmaicha. Because the tea leaf used is half the amount of usual tea, genmaicha contains less caffeine compared to sencha or other green tea.
The origin of genmaicha extends back a hundred years to a common practice where people would flavor old tea leaves with leftover kagami-mochi New Year’s rice cakes that had been toasted. The commercialization of this practice replaced the toasted mochi pieces with toasted rice grains, and is now considered a traditional Japanese tea.
Sumber: http://yunomi.us/glossary/genmaicha/
Lets focused on tea Bancha
Bancha
Bancha refers to tea made from leaves picked after the first flush tea* (i.e. summer, autumn harvest tea, leaves and stems collected when trimming the tea plant in early winter and spring) or large leaves that are separated during processing. However, because bancha is found in various regions of Japan, bancha does not always fall under the above description, baring its own definition from region to region.
The term bancha in Tohoku region (northern part of Japan) refers to houjicha. Kyobanchamade in Kyoto is a tea with big leaf and a smoky flavor.
**There is a bancha called “Kawayanagi” which uses the large tea leaf gathered from the first flush tea. This is, however, very rare for the first flush tea leaves tend to be soft and small.
Sumber: https://yunomi.us/glossary/
Tuesday, November 5, 2013
Sisa kemegahan Buitenzorg (Bogor)
Deep down below us lay a valley of eden, kata Scidmore, pelancong terkenal asal Inggris, tentang keindahan lanskap kaki Gunung Salak seperti tertulis dalamBuitenzorg Kota Terindah di Jawa, Catatan Perjalanan dari Tahun 1860-1930 karya Ahmad Baehaqie. Di lembah inilah terdapat jejak kehidupan beragam bangsa, termasuk Tionghoa dan Arab.
Hingga 1579, hamparan berbukit di kaki Salaka yang diapit Ciliwung dan Cisadane dan dibelah Cipakancilan terdapat Kerajaan Sunda Galuh dengan ibu kota Pakwan Pajajaran.
Sejak 1619, di sedikit sisa reruntuhan akibat pemusnahan oleh Kesultanan Banten, bangsa Eropa, Tionghoa, Arab, dan Sunda (pribumi) terbangun kawasan bernama Buitenzorg. Inilah cikal bakal Kota Bogor.
Seperti pernah diutarakan oleh Scidmore, keindahan Buitenzorg era kolonial amat terkenal di kalangan pelancong Eropa. Namun, Bogor yang sekarang tidak lagi pantas disebut valley of eden. Lingkungan sekarang sudah semrawut dan tak lagi sejuk.
Namun, masih ada sisa-sisa era Buitenzorg yang bisa dinikmati biarpun terancam sirna. Misalnya, kawasan Tionghoa di Babakanpasar dan Gudang, Bogor Tengah, dan kawasan Arab di Empang, Bogor Selatan. Untuk menyusuri kedua kawasan yang berdekatan, sebaiknya dengan berjalan atau bersepeda.
Sedikit melelahkan, tetapi lebih efektif ketimbang terjebak kemacetan dan kesemrawutan akut di kedua kawasan.
Mari awali perjalanan ke Pulogeulis, Babakanpasar. Di delta Ciliwung ini ada Wihara Mahabrahma (Kelenteng Pan Kho Bio) yang dibangun dalam fase 1619-1743. Inilah tempat ibadah tertua komunitas Tionghoa Bogor. Sebelum dihuni oleh orang Sunda, Tionghoa, Arab, dan pendatang yang kemudian berasimilasi, Pulogeulis diduga tempat pemandian putri-putri Pakwan Pajajaran.
Dalam wihara ada yoni, arca Hindu, patung Kwan Im, tempat dupa berbahan logam kuningan, serta batu petilasan Uyut Gebok, Eyang Jayaningrat, Eyang Sakee, Embah Raden Mangun Jaya, Embah Imam, dan Prabu Surya Kencana. Menurut Sekretaris Wihara Mahabrahma, Candra Kusuma, yoni, arca Hindu, dan batu petilasan ditemukan sebelum pembangunan kelenteng. Patung Kwan Im dan tempat dupa setelah kelenteng dibangun.
Menurut Candra, wihara ini bukan sekadar tempat ibadat umat Buddha, Konghucu, dan Tao. Tempat ini kerap dikunjungi peziarah Sunda Wiwitan, Hindu, dan Islam. Di sini, pernah ada tradisi pencucian barongsai dengan aliran Ciliwung setiap hari kesembilan (Che Kau) sebelum diarak pada hari ke-15 (Cap Go Mei). Sayang, tradisi ini belum terlaksana lagi karena sungai berbau dan tercemar.
Dari Pulogeulis, mari melanjutkan perjalanan ke samping Pasar Bogor, yakni Jalan Kelenteng dan Jalan Pasar. Di sini ada deretan rumah toko dua lantai berornamen kayu dan kaca patri. Usianya lebih dari seabad, tetapi tidak terawat. Masih ada yang menjual celengan, tembikar, anglo, kendil, kendi, piring, dan gelas dari tanah liat, sandal bakiak, keranjang, pengki, besek, baki, serta bakul dari anyaman bambu.
Di belakang Pasar Bogor ada bekas bangunan Kapitan Tionghoa dan Hotel Passer Baroe yang amat menyedihkan. Kedua bangunan ini tertutup semak; banyak coretan; tempat menaruh gerobak, alat pemarut kelapa, dan kandang ternak; dikotori sampah; genangan berbau kurang sedap; ditambah aroma dari lapak kelapa, daging ayam, sapi, dan ikan.
Padahal, menurut budayawan Tionghoa Bogor, Mardi Liem, Passer Baroe dibangun pada 1873 sezaman dengan Hotel Binnenhof (kini Hotel Salak Heritage) dan Hotel Bellevue (pernah menjadi Pasar Ramayana dan kini Bogor Trade Mall). Binnenhof dan Bellevue dikhususkan bagi orang Eropa, Indo-Eropa, dan golongan yang disetarakan. Passer Baroe menjadi pilihan kaum non-Eropa, antara lain Tionghoa dan Arab. Sesudah masa kemerdekaan sampai 1966, hotel pernah dihuni sejumlah keluarga Angkatan Udara Republik Indonesia.
Dari Pasar Bogor bergeserlah ke Jalan Suryakencana yang dulu, yakni Jalan Pos (De Groote Postweg) penghubung Bogor-Sukabumi-Cianjur, diubah menjadi Handelstraat lalu Jalan Perniagaan. Di seberang gerbang utama Kebun Raya Bogor atau di awal Suryakencana terdapat Wihara Dhanagun (Kelenteng Hok Tek Bio). Inilah tempat ibadat kedua yang dibangun komunitas Tionghoa setelah Pan Kho Bio.
Pada zaman kolonial, permukiman di Bogor ditata dan disegregasi berdasarkan warna kulit agar lebih mudah diatur (Wijkenstelsel 1835-1915). Kawasan di kiri kanan Handelstraat di antara Ciliwung dan Cipakancilan untuk komunitas Tionghoa. Diduga, karena kebijakan inilah sebagian komunitas Tionghoa berpindah dari Pulogeulis ke Handelstraat. Di Suryakencana, bangunan rumah toko berderet rapat, tidak atau sedikit halaman, berlantai satu, dua, atau tiga, dan berarsitektur Tionghoa atau Indis.
Menurut Mardi Liem, wihara di utara ibarat kepala naga, sedangkan deretan bangunan di Suryakencana ialah badan naga. Selepas Wijkenstelsel, kalangan pribumi dan pendatang juga bermukim dan bercampur dengan komunitas Tionghoa di kawasan Suryakencana. Kebijakan diskriminatif Orde Baru yang menekan komunitas Tionghoa membuat sejumlah bangunan berarsitektur Tionghoa dan Indis dibongkar menjadi bangunan modern. Namun, masih ada sejumlah bangunan tua, cukup terawat, dan menjadi benda cagar budaya, seperti rumah Kapitan Tan, rumah keluarga Thung, rumah abu keluarga Thung, dan toko roti Tan Ek Tjoan.
Kawasan Tionghoa bukan sekadar Suryakencana. Tengok kawasan Jalan Roda, Gang Aut, Jalan Pedati, Jalan Ranggagading, dan Jalan Lawangsaketeng di sekitar Suryakencana. Di kawasan perniagaan ini dijual aneka komoditas, makanan-minuman (tradisional atau modern), obat, kosmetik, pakaian, kendaraan, buku, dan cendera mata khas atau keperluan peribadatan bagi komunitas Tionghoa.
Di Lawangsaketeng ada deretan toko yang menjual hasil bumi, terutama ikan asin dan hasil laut yang dikeringkan. Lawangsaketeng diduga sudah ada sejak Pakwan Pajajaran yang berarti gerbang dilipat yang dijaga di luar dan dalam.
Arab Empang
Berada di bagian lembah antara Cipakancilan dan Cisadane ada kawasan Arab yang terbentuk seperti kawasan Tionghoa karena kebijakan Wijkenstelsel 1835-1915. Namun, sebelum menjadi kawasan Arab dan bernama Empang, daerah ini bernama Soekaati (Sukahati). Di sinilah pusat pemerintahan Kampung Baru sekaligus cikal bakal Kabupaten Bogor.
Menurut budayawan Arab Bogor, Adenan Taufik, sebutan Empang muncul karena Bupati Kampung Baru Demang Wiranata (1749-1758) membuat kolam ikan di halaman pendapa (kini alun-alun). Lama-kelamaan kawasan itu identik dengan sebutan Empang dan menenggelamkan nama Soekaati.
Alun-alun, lanjut Adenan, diduga sudah ada sejak zaman Pakuan Pajajaran. Kala itu, alun-alun merupakan tempat hukuman picis (penyiksaan) terhadap penjahat yang dipertontonkan ke masyarakat agar kejahatan tidak ditiru. Kini, alun-alun itu tidak ubahnya lapangan berumput bergelombang, tidak terawat, dan jadi lahan parkir kendaraan. Di sekelilingnya terdapat tembok berikut kios pedagang makanan dan minuman. Pada saat hari raya menjadi pasar kambing.
Di sekitar alun-alun berderet toko perlengkapan ibadah, yakni peci, sorban, sajadah, tasbih, sarung, parfum, rebana, dan kurma. Ada juga rumah makan khas yang menyediakan menu nasi kebuli, gulai, sop, sate kambing, serta kue khas, yakni kamir, kaat, dan manom.
Sejumlah bangunan tua yang bisa dilihat di Empang, antara lain, Masjid An Nur, Masjid Agung Empang, Makam Habib Abdullah bin Mukhsin Al Attas, bekas rumah Bupati Kampung Baru, rumah Kapitan Arab, makam keluarga Dalem Shalawat, dan Bendungan Empang. Di sini juga ada makam Raden Saleh Sjarif Bustaman, maestro seni lukis era kolonial.
Sisa-sisa bangunan khas komunitas Tionghoa dan Arab sudah tinggal sedikit dan tidak semua berdiri di lanskap yang enak dilihat. Bangunan antik, tua, dan yang zaman dulu amat terkenal malah berada di lingkungan yang amburadul dan tidak terawat. Apakah ini menunjukkan bahwa kita enggan menjadikan Bogor seperti masa Buitenzorg? Padahal, di masa lalu itu, kalangan pelancong amat memuja keindahan kota yang kini berpenduduk hampir 1 juta jiwa ini. (Ambrosius Harto)
Sumber: Jejak Tionghoa dan Arab di Lembah Salaka
Sunday, September 29, 2013
Pusara Tua Di Pusara Lhee Sagoe
Pusara Tua Di Pusara Lhee Sagoe
Tiga benteng bersejarah di Aceh Besar —Indra Purwa (Peukan Bada), Indra Patra (Krueng Raya), dan Indra Puri (Indra Puri)— menjadi teka-teki. Tidak ada catatan kuat tentang itu, walau ketiga benteng bermula dari sejarah sebelum Islam masuk ke Aceh.
Sejarah Hindu dan Budha sangat kuat mempengaruhi perjalanan sejarah di Aceh secara umum. Keberadaan Banda Aceh sebagai pusat kerajaan Aceh Darussalam masa lalu pun tidak bisa dipungkiri sebagai kerajaan yang dibangun diatas puing-puing kerajaan Hindu dan Budha, yakni kerajaan Indra Purba, Kerajaan Indra Purwa, Kerajaan Indra Patra, dan kerajaan Indra Pura. Hal itu diyakini dari bukti sejarah batu nisan di Kampung Pande—dan salah satu batu nisannya terdapat nama Sultan Firmansyah—cucu dari Sultan Johansyah.
Sejarah diatas sekaligus mengklaim Banda Aceh sebagai pusat kerajaan Aceh Darussalam (didirikan hari jumat 1 Ramadhan 601 H (22 April 1205 M)) yang dibangun Sultan Johansyah setelah berhasil menaklukan Kerajaan Hindu Budha Indra Purba yang beribukota Bandar Lamuri. Kota Lamuri ini adalah Lam Urik yang sekarang berada di Aceh Besar. Menurut Dr. N.A. Baloch dan Dr. Lance Castle, Lamuri adalah Lamreh di Pelabuhan Malahayati (Krueng Raya sekarang). Istananya berada di tepi Kuala Naga (Krueng Aceh ) di Kampung Pande (Kandang Aceh). Ketika cucu Sultan Alaidin Mahmud Syah memerintah, ada dibangun istana di seberang Kuala Naga (Krueng Aceh) bernama Kuta Dalam Darud Dunia (Meligoe Aceh atau Pendopo Gubernur sekarang), kemudian mendirikan Mesjid Djami Baiturrahman pada tahun 691 H.
Kini Ada tiga buah Benteng peninggalan Hindu-Budha yang menyebar di Aceh Besar. Antara lain Benteng Indra Patra (Krueng Raya), Indra Purwa (Peukan Bada), dan Indra Puri (Indra Puri). Ketiga benteng tersebut kemudian menjadi simbol kuat pertahanan tentara kerajaan Aceh Masa lalu, lantaran posisi Benteng mebawahi beberapa mukim masing-masing yang kemudian dikenal dengan sebutan Aceh Lhe Sagoe. Cerita Aceh Lhe Sagoe memang tidak terkait kuat pada benteng, tetapi serpihan letaknya memang menggambarkan kekuatan tersebut.
Indra Patra
Benteng Indra Patra ini dibangun oleh Kerajaan Hindu pertama di Aceh (Indra Patra) pada masa sebelum kedatangan Islam ke Aceh, yaitu kerajaan Lamuri pada abad ke tujuh Masehi. Benteng ini dibangun dengan posisi yang strategis karena langsung dihadapkan dengan Selat Malaka, sehingga berfungsi sebagai benteng pertahanan dari serangan armada Portugis. Armada Laut Sultan Iskandar Muda yang terkenal tangguh, dibawah pimpinan Laksamana Malahayati-- laksamana wanita pertama di dunia—benteng ini digunakan sebagai pertahanan kerajaan Aceh pada masa itu.
Benteng ini berukuran besar dan berkonstruksi kokoh, berarsitektur unik, terbuat dari beton sesuai pada masanya karena untuk mencapai bagian dalam benteng, harus dilalui dengan memanjat terlebih dahulu.kapur. Saat ini jumlah benteng yang tersisa hanya dua, itu pun pintu bentengnya telah hancur terkena tsunami. Pada awalnya ada tiga bagian besar benteng yang tersisa. Benteng yang paling besar berukuran 70 x 70 meter dengan ketinggian 3 meter lebih. Ada sebuah ruangan yang besar dan kokoh berukuran 35 x 35 meter dan tinggi 4 meter. Rancangan bangunannya terlihat begitu istimewa dan canggih,
Indra Puri
Menurut riwayat sejarah, Indrapuri dulunya merupakan sebuah kerajaan yang didirikan masyarakat terdahulu di Aceh. Salah seorang adik perempuan putra Harsha dari India yang suaminya terbunuh dalam peperangan yang dilancarkan oleh bangsa Huna pada tahun 604 M melarikan diri. Setibanya di Aceh dari pelarian tersebut Putri kerajaan mendirikan sebuah kerajaan yang kini dikenal dengan sebutan Indrapuri. Hal tersebut diperkuat dengan fakta jika didekat Indrapuri terdapat perkampungan yang dulunya dihuni masyarakat beragama hindu yaitu di desa Tanoh Abei serta sejumlah kuburan Hindu di seputaran Indrapuri. Di kerajaan tersebut didirikan candi yang diberi nama dengan Indrapuri yang artinya 'Kuta Ratu'. Candi atau Masjid Indrapuri dulunya merupakan bagian dari tiga benteng yang berbentuk segitiga sebagai titik kekuatan tiga kerajaan Hindu terbesar. Kedua benteng lainnya adalah benteng Indrapatra di Ladong Kecamatan Mesjid Raya dan Benteng Indrapurwa di Lembadeuk Kecamatan Peukan Bada.
Seiring dengan perkembangan masuknya Islam ke Aceh, disusul dengan berubahnya kerajaan Lamuri menjadi kerajaan Islam, bangunan-bangunan candi menjadi terbengkalai. Pada akhirnya oleh kerajaan areal candi tersebut dialih fungsikan sebagai masjid. Kemudian pada masa kejayaan Sultan Iskandar Muda, di atas bekas candi tersebut kembali dipugar kembali menjadi masjid yang lebih megah dengan ukuran 18,8 m x 48,8 meter dan tinggi 11,65 meter.
Indra Purwa
IndraPurwa merupakan salah satu sejarah Aceh yang penting di desa Ujong Pancu. Indra Purwa didirikan pada masa kerajaan Hindu dan termasuk salah satu dari 3 Indra dalam trail Aceh lhee sagoe.
Banyak pihak sekarang ini yang sudah tidak menemukan lagi bekas-bekas benteng Indra Purwa ini, lantaran sudah tertutup laut, berbeda dengan benteng Indra Patra dan Indra Puri yang masih berdiri tegak. Situs kerajaan Indra Purwa di sekitar mesjid Indrapurwa dibangun kembali setelah dihantam gelombang tsunami.
Apabila berkiunjung ke Ujung Pancu barangkali, bekas-beklas dari benteng Indra Purwa ini tidak akan tampak, karena sebagian pondasinya telah di lapisi semen, sehingga bentuk aslinya tidak terlihat jelas. Selain itu, hanya sebagian pondasi bangunan yang masih utuh. Keadaan kerajaan Indra Purwa sangat memprihatinkan, karena tidak ada perawatan. Padahal Indra Purwa salah satu identitas Kerajaan Aceh baik sebelum atau sesudah masuk Islam.
Sisa puing kerajaan Indra Patra seperti kata masyarakat di sekitar lokasi, di daerah itu ada batu isan peninggalan abad 15 dan 16 bahkan jauh sebelumnya. Tetapi sayangnya, kawasan itu ditutupi pohon lebat dan rumput panjang, sehingga sulit menemukan batu nisan. Sebagian Batu nisan yang ada—kata warga itu-- sebagian dari batu nisan telah dimakan usia dan sebagian lagi tertimbun tanah sehingga bentuknya tidak sempurna lagi.
Aceh Lhee Sagoe
Sejarah Aceh Lhee Sagoe bukan hanya kata-kata perjalanan sejarah Aceh. Keberadaan tiga benteng berubah-ubah fungsi setelah dikuasai oleh kerajaan Islam. Perubahan pertama oleh kerajaan ASceh dijadikan mesjid, selanjutnya berubah menjadi benteng pertahanan Aceh oleh pejuang-pejuang Aceh seperti di Indra Patra yang pernah menjadi pertahanan angkatan laut Aceh pimpinan Laksamana Keumalahayati—laksamana perempuan pertama di dunia.
Namun sebagian masyarakat mengatakan, kekuatan lhe sagoe itu adalah kekuatan strategi perang Aceh untuk menahan Belanda di kutaradja, namun sebagian lagi mengatakan sebagai pertahanan laut tentara Aceh. “Belanda terkepung di Kota Raja, dan membiarkannya menguasai kotaradja, tetapi Belanda tidak bisa memperluas kekuasaan, karena pertahanan lhee Sagoe yang instensif,” kata masyarakat seputar lokasi Indra Puri.
Sejarah benteng Aceh Lhee Sagoe menjadi perhatian para sejarawan karena keberadaannya yang tidak mendapat perhatian dari pemerintah Aceh dan Pemerintah Kabupaten/kota. Padahal benteng adalah situs sejarah yang mempunyai cerita sendiri lantaran dibelakangnya terdapat kisah perlawanan, pemberontakan, intrik dan heroism orang-orang di zamannya.
Sayangnya, ketiga benteng yang memiliki sejarah besar itu tidak mendsapat perhatian layak. Menurut Ketua Aceh Heritage Community (AHC), Yenni Rahmayanti mengutif dari situsnya mengatakan, renovasi yang dilakukan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Aceh melakukan renovasi benteng Indra Patra tidak sesuai dengan kaidah. Renovasi yang dilakukan sedikit banyak mengubah keasliannya. "Harusnya situs sejarah ini mendapat perhatian dari Balai Pelestarian Sejarah, tapi sepertinya tidak" ujarnya.
Memang jika kita perhatikan, sebagai contoh papan informasi penunjuk sejarah tidak ada di tempelkan. Ada juga hal lain yang menyedihkan terkait dengan keberadaan benteng. Banyak masyarakat sekitar mengambil batu-batuan benteng untuk keperluan membuat rumah bahkan ada yang mendirikan pondasi di atas reruntuhan benteng.
Untuk kepentuingan ‘lhe Sagoe’ sudSebagai masyarakat yang menghargah selayaknya pemerintah melakukan perbaikan dan menjaga sejarah itu sebagai bagian yang terpenting di Aceh, agar kelak generasinya dapat mengenali perjalanan sejarah yang berlangsung di Aceh, jangan sampai kelak generasi Aceh hanya menunjuk ke arah reruntuhan dan berseru "Itu batu apa?", bila itu terjadi bersiaplah sejarah Lhe Sagoe menjadi pusara diatas pusara.
Sumber:http://www.dmdiaceh.org/index.php/berita/sejarah/74-pusara-tua-di-pusara-lhee-sagoe
Benteng Indrapatra Banda Aceh
Benteng Indrapatra, sejarah yang terlupakan
BENTENG merupakan situs sejarah yang mempunyai cerita tersendiri. Di belakangnya ada kisah perlawanan, pemberontakan, dan heroisme orang-orang di zamannya. Demikian juga dengan Benteng Indra Patra yang terletak di Kecamatan Masjid Raya, sekitar 19 km dari Banda Aceh, menuju Pelabuhan Krueng Raya. Benteng ini masih tetap berdiri kokoh meski telah dihantam tsunami.
Sebagai sebuah situs bersejarah, Benteng Indra Patra perlu dijaga. Dari segi fisik, secara alami bangunan akan mengalami kerusakan digerus alam. Hujan, panas, Dinding mengelupas, batu pondasi berjatuhan satu persatu. Lama kelamaan bentuk aslinya tidak kelihatan lagi.
Dilihat Dari sisi sejarah, kisah-kisah seputar keberadaan benteng perlahan-lahan akan dilupakan orang. Bahkan orang-orang yang tinggal sekitar benteng pun belum tentu tahu asal muasal dinding besar di hadapan rumah mereka.
Benteng Indrapatra ini dibangun pada masa kerajaan Lamuri, yaitu sebuah kerajaan hindu pertama di Aceh. Tepatnya pada abad ke tujuh masehi. Benteng ini dibangun pada posisi yang sangat strategis karena berhadapan langsung dengan selat malaka. Disebabkan karena alasan keamanan serta pertahanan kerajaan tersebut.
Saat itu benteng Indrapatra ini dibangun dengan tujuan untuk membentengi serangan masyarakat Lamuri dari gempuran meriam-meriam yang berasal dari kapal- kapal perang Portugis. Di samping itu, benteng ini juga dipakai sebagai tempat beribadah umat Hindu yang berada di Aceh saat itu.
Peranan dan fungsi dari benteng Indrapatra berlangsung hingga masa islam tiba di Aceh. Pada masa kerajaan Sultan Iskandar Muda dengan laksamananya yang sangat dikenal dan segani yaitu Laksamana Malahayati (laksamana Wanita pertama Di dunia) benteng ini dipergunakan sebagai benteng pertahanan bagi kerajaan Aceh Darusssalam dari serangan musuh yang berasal dari laut.
Hingga saat ini hanya tertinggal dua benteng yang masih berdiri kokoh. Benteng utamanya berukuran 70 x 70m, ketinggiannya mencapai 4 meter, serta ketebalan dinding sampai 2 meter. Benteng indapatra memiliki arsitektur yang unik, terbuat dari beton kapur ( susunan berasal dari batu gunug, sebagai perekat berasal dari campuran kapur, tanah liat, dan alusan kulit kerang, serta alat perekat lainnya.
Dalam benteng utama terdapat dua buah “stupa” atau bangunan yang menyerupai kubah dimana di dalamnya terdapat sumur sebagai tempat air bersih yang digunakan oleh umat hindu untuk penyucian diri dalam rangka peribadahan. Di samping itu, di dalam benteng juga terdapat bunker sebagai tempat penyimpanan meriam, peluru, dan senjata.
Di setiap sisi dinding benteng terdapat 11 lubang yang digunakan sebagai tempat pengintai musuh. Sebagai masyarakat yang menghargai sejarah sudah selayaknya benteng Indra Patra dirawat dan dilestarikan. Serta agendakan benteng Indapatra sebagai wisata sejarah anda. Karena sejatinya beragam sejarah terdapat di Aceh.
Thursday, September 26, 2013
Jejak peradaban kota yang telah tenggelam selama 1.200 tahun diungkap.
KOMPAS.com — Jejak peradaban kota yang telah tenggelam selama 1.200 tahun diungkap. Sejumlah peninggalan arkeologis mulai dari kapal, patung, hingga koin ditemukan.
Kota yang tenggelam tersebut bernama Heracleion. Kota itu merupakan salah satu pusat perdagangan di wilayah tengah Mediterania sebelum akhirnya tenggelam. Kota berada di wilayah Bay of Aboukir, Mesir.
Heracleion ditemukan pada tahun 2001. Penggalian yang dilakukan selama bertahun-tahun mengungkap kehidupan kota tersebut.
Bulan lalu, para arkeolog bertemu di Universitas Oxford untuk membicarakan berbagai macam penemuan terkait Heracleion. Bagi para ilmuwan, menemukan jejak peradaban Heracleion seperti menemukan peradaban Atlantis yang kini masih teori.
Sejumlah jejak peradaban yang telah ditemukan di antaranya 64 kapal tua yang terpendam di dalam lumpur. Selain itu, ditemukan pula koin emas dan pemberat perunggu, bukti adanya perdagangan.
Patung raksasa setinggi 4 meter juga ditemukan dan berhasil diangkat. Sementara ilmuwan juga berhasil menemukan patung-patung lain yang lebih kecil. Ada pula sejumlah prasasti dari masa Mesir dan Yunani Kuno.
Patung dewa Hopi, dewa Sungai Nil
Spinx dari kota Heracleion
Arkeolog juga menemukan sarkofagus. Diduga, sarkofagus menyimpan sejumlah hewan yang telah dimumifikasi.
"Situs ini terawetkan dengan sangat baik. Kami sekarang mulai melihat beberapa hal lain yang menarik di dalamnya untuk mencoba memahami kehidupan di kota tersebut," kata Damian Robinson, Direktur Oxford Center for Maritime Archaeology.
"Kami mendapatkan lebih banyak gambaran perdagangan di sana dan kondisi perekonomian maritim di akhir masa Mesir Kuno," ungkap Robinson seperti dikutip The Telegraph, Minggu (28/4/2013).
"Kami menemukan ratusan patung dewa dan kami berupaya menemukan tempat di mana kuil tempat patung dewa itu berada. Kapal yang ditemukan juga menarik karena nerupakan temuan dengan jumlah terbesar di satu tempat serta kami juga telah menemukan 700 jangkar," papar Robinson.
Jantung kota Heracleion adalah kuil Amun-Gereb. Dari pusat kota itu, ada banyak jalan yang menghubungkan beragam wilayah di kota.
Heracleion tenggelam di kedalaman 450 meter. Ilmuwan belum mengetahui dengan pasti mengapa kota tenggelam. Diduga, sedimen di kota itu tak stabil sehingga membuat tanah kota turun dan akhirnya tenggelam.
Heracleion ditemukan kembali oleh arkeolog Franck Goddio pada tahun 2001. Ia melakukan penelitian untuk mencari kapal perang Perancis yang tenggelam pada abad 18.
Goddio mengungkapkan, penemuan Heraclion dan peradabannya menandani pentingnya wilayah muara Sungai Nil pada peradaban masa lampau. Menurutnya, penggalian masih harus dilakukan. Bisa butuh 200 tahun untuk benar-benar mengungkap kehidupan kota itu.
Frank Goddio dan salah satu batu prasasti yang ditemukan di Heracleion (kiri). Patung Isis, dewi bangsa Mesir (kanan).
Sumber:
http://sains.kompas.com/read/2013/04/29/0916147/Jejak.Peradaban.Kota.yang.Tenggelam.1.200.Tahun.Terungkap%23


