Showing posts with label Place History. Show all posts
Showing posts with label Place History. Show all posts

Sunday, December 29, 2013

Jejak Kejayaan Gowa di Benteng Rotterdam


Fort Rotterdam atau Benteng Ujung Pandang (Jum Pandang) adalah sebuah benteng peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo.Letak benteng ini berada di pinggir pantai sebelah barat Kota Makassar, Sulawesi Selatan.

Benteng ini dibangun pada tahun 1545 oleh Raja Gowa ke-9 yang bernama I manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tumapa'risi' kallonna. Awalnya benteng ini berbahan dasar tanah liat, namun pada masa pemerintahan Raja Gowa ke-14 Sultan Alauddin konstruksi benteng ini diganti menjadi batu padas yang bersumber dari Pegunungan Karst yang ada di daerah Maros. Benteng Ujung Pandang ini berbentuk seperti seekor penyu yang hendak merangkak turun ke lautan. Dari segi bentuknya sangat jelas filosofi Kerajaan Gowa, bahwa penyu dapat hidup di darat maupun di laut. Begitu pun dengan Kerajaan Gowa yang berjaya di daratan maupun di lautan.

Nama asli benteng ini adalah Benteng Ujung Pandang, biasa juga orang Gowa-Makassar menyebut benteng ini dengan sebutan Benteng Panyyua yang merupakan markas pasukan katak Kerajaan Gowa. Kerajaan Gowa-Tallo akhirnya menandatangani perjanjian Bungayya yang salah satu pasalnya mewajibkan Kerajaan Gowa untuk menyerahkan benteng ini kepada Belanda. Pada saat Belanda menempati benteng ini, nama Benteng Ujung Pandang diubah menjadi Fort Rotterdam. Cornelis Speelmansengaja memilih nama Fort Rotterdam untuk mengenang daerah kelahirannya di Belanda. Benteng ini kemudian digunakan oleh Belanda sebagai pusat penampungan rempah-rempah di Indonesia bagian timur.

Di kompleks Benteng Ujung Pandang kini terdapat Museum La Galigo yang di dalamnya terdapat banyak referensi mengenai sejarah kebesaran Makassar (Gowa-Tallo) dan daerah-daerah lainnya yang ada di Sulawesi Selatan. Sebagian besar gedung benteng ini masih utuh dan menjadi salah satu objek wisata di Kota Makassar.


Adapted: wikipedia - and other sources


Tuesday, November 5, 2013

Sisa kemegahan Buitenzorg (Bogor)

Deep down below us lay a valley of eden, kata Scidmore, pelancong terkenal asal Inggris, tentang keindahan lanskap kaki Gunung Salak seperti tertulis dalamBuitenzorg Kota Terindah di Jawa, Catatan Perjalanan dari Tahun 1860-1930 karya Ahmad Baehaqie. Di lembah inilah terdapat jejak kehidupan beragam bangsa, termasuk Tionghoa dan Arab.

Hingga 1579, hamparan berbukit di kaki Salaka yang diapit Ciliwung dan Cisadane dan dibelah Cipakancilan terdapat Kerajaan Sunda Galuh dengan ibu kota Pakwan Pajajaran.

Sejak 1619, di sedikit sisa reruntuhan akibat pemusnahan oleh Kesultanan Banten, bangsa Eropa, Tionghoa, Arab, dan Sunda (pribumi) terbangun kawasan bernama Buitenzorg. Inilah cikal bakal Kota Bogor.

Seperti pernah diutarakan oleh Scidmore, keindahan Buitenzorg era kolonial amat terkenal di kalangan pelancong Eropa. Namun, Bogor yang sekarang tidak lagi pantas disebut valley of eden. Lingkungan sekarang sudah semrawut dan tak lagi sejuk. 

Namun, masih ada sisa-sisa era Buitenzorg yang bisa dinikmati biarpun terancam sirna. Misalnya, kawasan Tionghoa di Babakanpasar dan Gudang, Bogor Tengah, dan kawasan Arab di Empang, Bogor Selatan. Untuk menyusuri kedua kawasan yang berdekatan, sebaiknya dengan berjalan atau bersepeda.

Sedikit melelahkan, tetapi lebih efektif ketimbang terjebak kemacetan dan kesemrawutan akut di kedua kawasan.

Mari awali perjalanan ke Pulogeulis, Babakanpasar. Di delta Ciliwung ini ada Wihara Mahabrahma (Kelenteng Pan Kho Bio) yang dibangun dalam fase 1619-1743. Inilah tempat ibadah tertua komunitas Tionghoa Bogor. Sebelum dihuni oleh orang Sunda, Tionghoa, Arab, dan pendatang yang kemudian berasimilasi, Pulogeulis diduga tempat pemandian putri-putri Pakwan Pajajaran.

Dalam wihara ada yoni, arca Hindu, patung Kwan Im, tempat dupa berbahan logam kuningan, serta batu petilasan Uyut Gebok, Eyang Jayaningrat, Eyang Sakee, Embah Raden Mangun Jaya, Embah Imam, dan Prabu Surya Kencana. Menurut Sekretaris Wihara Mahabrahma, Candra Kusuma, yoni, arca Hindu, dan batu petilasan ditemukan sebelum pembangunan kelenteng. Patung Kwan Im dan tempat dupa setelah kelenteng dibangun.

Menurut Candra, wihara ini bukan sekadar tempat ibadat umat Buddha, Konghucu, dan Tao. Tempat ini kerap dikunjungi peziarah Sunda Wiwitan, Hindu, dan Islam. Di sini, pernah ada tradisi pencucian barongsai dengan aliran Ciliwung setiap hari kesembilan (Che Kau) sebelum diarak pada hari ke-15 (Cap Go Mei). Sayang, tradisi ini belum terlaksana lagi karena sungai berbau dan tercemar.

Dari Pulogeulis, mari melanjutkan perjalanan ke samping Pasar Bogor, yakni Jalan Kelenteng dan Jalan Pasar. Di sini ada deretan rumah toko dua lantai berornamen kayu dan kaca patri. Usianya lebih dari seabad, tetapi tidak terawat. Masih ada yang menjual celengan, tembikar, anglo, kendil, kendi, piring, dan gelas dari tanah liat, sandal bakiak, keranjang, pengki, besek, baki, serta bakul dari anyaman bambu.

Di belakang Pasar Bogor ada bekas bangunan Kapitan Tionghoa dan Hotel Passer Baroe yang amat menyedihkan. Kedua bangunan ini tertutup semak; banyak coretan; tempat menaruh gerobak, alat pemarut kelapa, dan kandang ternak; dikotori sampah; genangan berbau kurang sedap; ditambah aroma dari lapak kelapa, daging ayam, sapi, dan ikan.

Padahal, menurut budayawan Tionghoa Bogor, Mardi Liem, Passer Baroe dibangun pada 1873 sezaman dengan Hotel Binnenhof (kini Hotel Salak Heritage) dan Hotel Bellevue (pernah menjadi Pasar Ramayana dan kini Bogor Trade Mall). Binnenhof dan Bellevue dikhususkan bagi orang Eropa, Indo-Eropa, dan golongan yang disetarakan. Passer Baroe menjadi pilihan kaum non-Eropa, antara lain Tionghoa dan Arab. Sesudah masa kemerdekaan sampai 1966, hotel pernah dihuni sejumlah keluarga Angkatan Udara Republik Indonesia.

Dari Pasar Bogor bergeserlah ke Jalan Suryakencana yang dulu, yakni Jalan Pos (De Groote Postweg) penghubung Bogor-Sukabumi-Cianjur, diubah menjadi Handelstraat lalu Jalan Perniagaan. Di seberang gerbang utama Kebun Raya Bogor atau di awal Suryakencana terdapat Wihara Dhanagun (Kelenteng Hok Tek Bio). Inilah tempat ibadat kedua yang dibangun komunitas Tionghoa setelah Pan Kho Bio.

Pada zaman kolonial, permukiman di Bogor ditata dan disegregasi berdasarkan warna kulit agar lebih mudah diatur (Wijkenstelsel 1835-1915). Kawasan di kiri kanan Handelstraat di antara Ciliwung dan Cipakancilan untuk komunitas Tionghoa. Diduga, karena kebijakan inilah sebagian komunitas Tionghoa berpindah dari Pulogeulis ke Handelstraat. Di Suryakencana, bangunan rumah toko berderet rapat, tidak atau sedikit halaman, berlantai satu, dua, atau tiga, dan berarsitektur Tionghoa atau Indis.

Menurut Mardi Liem, wihara di utara ibarat kepala naga, sedangkan deretan bangunan di Suryakencana ialah badan naga. Selepas Wijkenstelsel, kalangan pribumi dan pendatang juga bermukim dan bercampur dengan komunitas Tionghoa di kawasan Suryakencana. Kebijakan diskriminatif Orde Baru yang menekan komunitas Tionghoa membuat sejumlah bangunan berarsitektur Tionghoa dan Indis dibongkar menjadi bangunan modern. Namun, masih ada sejumlah bangunan tua, cukup terawat, dan menjadi benda cagar budaya, seperti rumah Kapitan Tan, rumah keluarga Thung, rumah abu keluarga Thung, dan toko roti Tan Ek Tjoan.

Kawasan Tionghoa bukan sekadar Suryakencana. Tengok kawasan Jalan Roda, Gang Aut, Jalan Pedati, Jalan Ranggagading, dan Jalan Lawangsaketeng di sekitar Suryakencana. Di kawasan perniagaan ini dijual aneka komoditas, makanan-minuman (tradisional atau modern), obat, kosmetik, pakaian, kendaraan, buku, dan cendera mata khas atau keperluan peribadatan bagi komunitas Tionghoa.

Di Lawangsaketeng ada deretan toko yang menjual hasil bumi, terutama ikan asin dan hasil laut yang dikeringkan. Lawangsaketeng diduga sudah ada sejak Pakwan Pajajaran yang berarti gerbang dilipat yang dijaga di luar dan dalam.

Arab Empang

Berada di bagian lembah antara Cipakancilan dan Cisadane ada kawasan Arab yang terbentuk seperti kawasan Tionghoa karena kebijakan Wijkenstelsel 1835-1915. Namun, sebelum menjadi kawasan Arab dan bernama Empang, daerah ini bernama Soekaati (Sukahati). Di sinilah pusat pemerintahan Kampung Baru sekaligus cikal bakal Kabupaten Bogor.

Menurut budayawan Arab Bogor, Adenan Taufik, sebutan Empang muncul karena Bupati Kampung Baru Demang Wiranata (1749-1758) membuat kolam ikan di halaman pendapa (kini alun-alun). Lama-kelamaan kawasan itu identik dengan sebutan Empang dan menenggelamkan nama Soekaati.

Alun-alun, lanjut Adenan, diduga sudah ada sejak zaman Pakuan Pajajaran. Kala itu, alun-alun merupakan tempat hukuman picis (penyiksaan) terhadap penjahat yang dipertontonkan ke masyarakat agar kejahatan tidak ditiru. Kini, alun-alun itu tidak ubahnya lapangan berumput bergelombang, tidak terawat, dan jadi lahan parkir kendaraan. Di sekelilingnya terdapat tembok berikut kios pedagang makanan dan minuman. Pada saat hari raya menjadi pasar kambing.

Di sekitar alun-alun berderet toko perlengkapan ibadah, yakni peci, sorban, sajadah, tasbih, sarung, parfum, rebana, dan kurma. Ada juga rumah makan khas yang menyediakan menu nasi kebuli, gulai, sop, sate kambing, serta kue khas, yakni kamir, kaat, dan manom. 

Sejumlah bangunan tua yang bisa dilihat di Empang, antara lain, Masjid An Nur, Masjid Agung Empang, Makam Habib Abdullah bin Mukhsin Al Attas, bekas rumah Bupati Kampung Baru, rumah Kapitan Arab, makam keluarga Dalem Shalawat, dan Bendungan Empang. Di sini juga ada makam Raden Saleh Sjarif Bustaman, maestro seni lukis era kolonial. 

Sisa-sisa bangunan khas komunitas Tionghoa dan Arab sudah tinggal sedikit dan tidak semua berdiri di lanskap yang enak dilihat. Bangunan antik, tua, dan yang zaman dulu amat terkenal malah berada di lingkungan yang amburadul dan tidak terawat. Apakah ini menunjukkan bahwa kita enggan menjadikan Bogor seperti masa Buitenzorg? Padahal, di masa lalu itu, kalangan pelancong amat memuja keindahan kota yang kini berpenduduk hampir 1 juta jiwa ini. (Ambrosius Harto) 



Sumber: Jejak Tionghoa dan Arab di Lembah Salaka

Sunday, September 29, 2013

Pusara Tua Di Pusara Lhee Sagoe

Pusara Tua Di Pusara Lhee Sagoe

 Tiga benteng bersejarah  di Aceh Besar —Indra Purwa (Peukan Bada), Indra Patra (Krueng Raya), dan Indra Puri (Indra Puri)— menjadi teka-teki. Tidak ada catatan kuat tentang itu, walau ketiga benteng bermula dari sejarah sebelum Islam masuk ke Aceh.

Sejarah Hindu dan Budha sangat kuat mempengaruhi perjalanan sejarah di  Aceh secara umum. Keberadaan Banda Aceh sebagai pusat kerajaan Aceh Darussalam masa lalu pun tidak bisa dipungkiri sebagai kerajaan yang dibangun diatas puing-puing kerajaan Hindu dan Budha, yakni kerajaan Indra Purba, Kerajaan Indra Purwa, Kerajaan Indra Patra, dan kerajaan Indra Pura. Hal itu diyakini dari bukti sejarah batu nisan di Kampung Pande—dan salah satu batu nisannya terdapat nama Sultan Firmansyah—cucu dari Sultan Johansyah.

Sejarah diatas sekaligus mengklaim Banda Aceh sebagai pusat kerajaan Aceh Darussalam (didirikan hari jumat 1 Ramadhan 601 H (22 April 1205 M)) yang dibangun Sultan Johansyah setelah berhasil menaklukan Kerajaan Hindu Budha Indra Purba yang beribukota Bandar Lamuri. Kota Lamuri ini adalah Lam Urik yang sekarang berada di Aceh Besar. Menurut Dr. N.A. Baloch dan Dr. Lance Castle, Lamuri adalah Lamreh di Pelabuhan Malahayati (Krueng Raya sekarang). Istananya berada di tepi Kuala Naga (Krueng Aceh ) di Kampung Pande (Kandang Aceh). Ketika cucu Sultan Alaidin Mahmud Syah memerintah, ada dibangun istana di seberang Kuala Naga (Krueng Aceh) bernama Kuta Dalam Darud Dunia (Meligoe Aceh atau Pendopo Gubernur sekarang), kemudian mendirikan Mesjid Djami Baiturrahman pada tahun 691 H.

Kini Ada tiga buah Benteng peninggalan Hindu-Budha yang menyebar di Aceh Besar. Antara lain Benteng Indra Patra (Krueng Raya), Indra Purwa (Peukan Bada), dan Indra Puri (Indra Puri). Ketiga benteng tersebut kemudian menjadi simbol kuat pertahanan tentara kerajaan Aceh Masa lalu, lantaran posisi Benteng mebawahi beberapa mukim masing-masing yang kemudian dikenal dengan sebutan Aceh Lhe Sagoe. Cerita Aceh Lhe Sagoe memang tidak terkait kuat pada benteng, tetapi serpihan letaknya memang menggambarkan kekuatan tersebut.

Indra Patra

 

Benteng Indra Patra ini dibangun oleh Kerajaan Hindu pertama di Aceh (Indra Patra) pada masa sebelum kedatangan Islam ke Aceh,  yaitu kerajaan Lamuri pada abad ke tujuh Masehi. Benteng ini dibangun dengan posisi yang strategis karena langsung dihadapkan dengan Selat Malaka, sehingga berfungsi sebagai benteng pertahanan dari serangan armada Portugis. Armada Laut Sultan Iskandar Muda yang terkenal tangguh, dibawah pimpinan Laksamana Malahayati-- laksamana wanita pertama di dunia—benteng ini digunakan sebagai pertahanan kerajaan Aceh pada masa itu.

Benteng ini berukuran besar dan berkonstruksi kokoh, berarsitektur unik, terbuat dari beton sesuai pada masanya karena untuk mencapai bagian dalam benteng, harus dilalui dengan memanjat terlebih dahulu.kapur. Saat ini jumlah benteng yang tersisa hanya dua, itu pun pintu bentengnya telah hancur terkena tsunami. Pada awalnya ada tiga bagian besar benteng yang tersisa. Benteng yang paling besar berukuran 70 x 70 meter dengan ketinggian 3 meter lebih. Ada sebuah ruangan yang besar dan kokoh berukuran 35 x 35 meter dan tinggi 4 meter. Rancangan bangunannya terlihat begitu istimewa dan canggih, 

Indra Puri

Menurut riwayat sejarah, Indrapuri dulunya merupakan sebuah kerajaan yang didirikan masyarakat terdahulu di Aceh. Salah seorang adik perempuan putra Harsha dari India yang suaminya terbunuh dalam peperangan yang dilancarkan oleh bangsa Huna pada tahun 604 M melarikan diri. Setibanya di Aceh dari pelarian tersebut Putri kerajaan mendirikan sebuah kerajaan yang kini dikenal dengan sebutan Indrapuri. Hal tersebut diperkuat dengan fakta jika didekat Indrapuri terdapat perkampungan yang dulunya dihuni masyarakat beragama hindu yaitu di desa Tanoh Abei serta sejumlah kuburan Hindu di seputaran Indrapuri. Di kerajaan tersebut didirikan candi yang diberi nama dengan Indrapuri yang artinya 'Kuta Ratu'. Candi atau Masjid Indrapuri dulunya merupakan bagian dari tiga benteng yang berbentuk segitiga sebagai titik kekuatan tiga kerajaan Hindu terbesar. Kedua benteng lainnya adalah benteng Indrapatra di Ladong Kecamatan Mesjid Raya dan Benteng Indrapurwa di Lembadeuk Kecamatan Peukan Bada.

Seiring dengan perkembangan masuknya Islam ke Aceh, disusul dengan berubahnya kerajaan Lamuri menjadi kerajaan Islam, bangunan-bangunan candi menjadi terbengkalai. Pada akhirnya oleh kerajaan areal candi tersebut dialih fungsikan sebagai masjid. Kemudian pada masa kejayaan Sultan Iskandar Muda, di atas bekas candi tersebut kembali dipugar kembali menjadi masjid yang lebih megah dengan ukuran 18,8 m x 48,8 meter dan tinggi 11,65 meter.

Indra Purwa

IndraPurwa merupakan salah satu sejarah Aceh yang penting di desa Ujong Pancu. Indra Purwa didirikan pada masa kerajaan Hindu dan termasuk salah satu dari 3 Indra dalam trail Aceh lhee sagoe.

Banyak pihak sekarang ini yang sudah tidak menemukan lagi bekas-bekas benteng Indra Purwa ini, lantaran sudah tertutup laut, berbeda dengan benteng Indra Patra dan Indra Puri yang masih berdiri tegak. Situs kerajaan Indra Purwa di sekitar mesjid Indrapurwa dibangun kembali setelah dihantam gelombang tsunami.

Apabila berkiunjung ke Ujung Pancu barangkali, bekas-beklas dari benteng Indra Purwa ini tidak akan tampak, karena sebagian pondasinya telah di lapisi semen, sehingga bentuk aslinya tidak terlihat jelas. Selain itu, hanya sebagian pondasi bangunan yang masih utuh. Keadaan kerajaan Indra Purwa sangat memprihatinkan, karena tidak ada perawatan. Padahal Indra Purwa salah satu identitas Kerajaan Aceh baik sebelum atau sesudah masuk Islam.

Sisa puing kerajaan Indra Patra seperti kata masyarakat di sekitar lokasi, di daerah itu ada batu isan peninggalan abad 15 dan 16 bahkan jauh sebelumnya. Tetapi sayangnya, kawasan itu ditutupi pohon lebat dan rumput panjang, sehingga sulit menemukan batu nisan. Sebagian Batu nisan yang ada—kata warga itu-- sebagian dari batu nisan telah dimakan usia dan sebagian lagi tertimbun tanah sehingga bentuknya tidak sempurna lagi.

Aceh Lhee Sagoe

Sejarah Aceh Lhee Sagoe bukan hanya kata-kata perjalanan sejarah Aceh. Keberadaan tiga benteng  berubah-ubah fungsi setelah dikuasai oleh kerajaan Islam. Perubahan pertama oleh kerajaan ASceh dijadikan mesjid, selanjutnya berubah menjadi benteng pertahanan Aceh oleh pejuang-pejuang Aceh seperti di Indra Patra yang pernah menjadi pertahanan angkatan laut Aceh pimpinan Laksamana Keumalahayati—laksamana perempuan pertama di dunia.

Namun sebagian masyarakat mengatakan, kekuatan lhe sagoe itu adalah kekuatan strategi perang Aceh untuk menahan Belanda di kutaradja, namun sebagian lagi mengatakan sebagai pertahanan laut tentara Aceh. “Belanda terkepung di Kota Raja, dan membiarkannya menguasai kotaradja, tetapi Belanda tidak  bisa memperluas kekuasaan, karena pertahanan lhee Sagoe yang instensif,” kata masyarakat seputar lokasi Indra Puri.

Sejarah benteng Aceh Lhee Sagoe menjadi perhatian para sejarawan karena keberadaannya yang tidak mendapat perhatian dari pemerintah Aceh dan Pemerintah Kabupaten/kota. Padahal  benteng adalah situs sejarah yang mempunyai cerita sendiri lantaran dibelakangnya terdapat kisah perlawanan, pemberontakan, intrik dan heroism orang-orang di zamannya.

Sayangnya, ketiga benteng yang memiliki sejarah besar itu tidak mendsapat perhatian layak. Menurut Ketua Aceh Heritage Community (AHC), Yenni Rahmayanti mengutif dari situsnya mengatakan, renovasi yang dilakukan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Aceh melakukan renovasi benteng Indra Patra tidak sesuai dengan kaidah. Renovasi yang dilakukan sedikit banyak mengubah keasliannya. "Harusnya situs sejarah ini mendapat perhatian dari Balai Pelestarian Sejarah, tapi sepertinya tidak" ujarnya.

Memang jika kita perhatikan, sebagai contoh papan informasi penunjuk sejarah tidak ada di tempelkan. Ada juga hal lain yang menyedihkan terkait dengan keberadaan benteng. Banyak masyarakat sekitar mengambil batu-batuan benteng untuk keperluan membuat rumah bahkan ada yang mendirikan pondasi di atas reruntuhan benteng.

Untuk kepentuingan ‘lhe Sagoe’ sudSebagai masyarakat yang menghargah selayaknya pemerintah melakukan perbaikan dan menjaga sejarah itu sebagai bagian yang terpenting di Aceh, agar kelak generasinya dapat mengenali perjalanan sejarah yang berlangsung di Aceh, jangan sampai kelak generasi Aceh hanya menunjuk ke arah reruntuhan dan berseru "Itu batu apa?", bila itu terjadi bersiaplah sejarah Lhe Sagoe menjadi pusara diatas pusara.


Sumber:http://www.dmdiaceh.org/index.php/berita/sejarah/74-pusara-tua-di-pusara-lhee-sagoe


Benteng Indrapatra Banda Aceh

Benteng Indrapatra, sejarah yang terlupakan

BENTENG merupakan situs sejarah yang mempunyai cerita tersendiri. Di belakangnya ada kisah perlawanan, pemberontakan, dan heroisme orang-orang di zamannya. Demikian juga dengan Benteng Indra Patra yang terletak di Kecamatan Masjid Raya, sekitar 19 km dari Banda Aceh, menuju Pelabuhan Krueng Raya. Benteng ini masih tetap berdiri kokoh meski telah dihantam tsunami.

Sebagai sebuah situs bersejarah, Benteng Indra Patra perlu dijaga. Dari segi fisik, secara alami bangunan akan mengalami kerusakan digerus alam. Hujan, panas, Dinding mengelupas, batu pondasi berjatuhan satu persatu. Lama kelamaan bentuk aslinya tidak kelihatan lagi.

Dilihat Dari sisi sejarah, kisah-kisah seputar keberadaan benteng perlahan-lahan akan dilupakan orang. Bahkan orang-orang yang tinggal sekitar benteng pun belum tentu tahu asal muasal dinding besar di hadapan rumah mereka.

Benteng Indrapatra ini dibangun pada masa kerajaan Lamuri, yaitu sebuah kerajaan hindu pertama di Aceh. Tepatnya pada abad ke tujuh masehi. Benteng ini dibangun pada posisi yang sangat strategis karena berhadapan langsung dengan selat malaka. Disebabkan karena alasan keamanan serta pertahanan kerajaan tersebut.

Saat itu benteng Indrapatra ini dibangun dengan tujuan untuk membentengi serangan masyarakat Lamuri dari gempuran meriam-meriam yang berasal dari kapal- kapal perang Portugis. Di samping itu, benteng ini juga dipakai sebagai tempat beribadah umat Hindu yang berada di Aceh saat itu.

Peranan dan fungsi dari benteng Indrapatra berlangsung hingga masa islam tiba di Aceh. Pada masa kerajaan Sultan Iskandar Muda dengan laksamananya yang sangat dikenal dan segani yaitu Laksamana Malahayati (laksamana Wanita pertama Di dunia) benteng ini dipergunakan sebagai benteng pertahanan bagi kerajaan Aceh Darusssalam dari serangan musuh yang berasal dari laut.

Hingga saat ini hanya tertinggal dua benteng yang masih berdiri kokoh. Benteng utamanya berukuran 70 x 70m, ketinggiannya mencapai 4 meter, serta ketebalan dinding sampai 2 meter. Benteng indapatra memiliki arsitektur yang unik, terbuat dari beton kapur ( susunan berasal dari batu gunug, sebagai perekat berasal dari campuran kapur, tanah liat, dan alusan kulit kerang, serta alat perekat lainnya.

Dalam benteng utama terdapat dua buah “stupa” atau bangunan yang menyerupai kubah dimana di dalamnya terdapat sumur sebagai tempat air bersih yang digunakan oleh umat hindu untuk penyucian diri dalam rangka peribadahan. Di samping itu, di dalam benteng juga terdapat bunker sebagai tempat penyimpanan meriam, peluru, dan senjata.

Di setiap sisi dinding benteng terdapat 11 lubang yang digunakan sebagai tempat pengintai musuh. Sebagai masyarakat yang menghargai sejarah sudah selayaknya benteng Indra Patra dirawat dan dilestarikan. Serta agendakan benteng Indapatra sebagai wisata sejarah anda. Karena sejatinya beragam sejarah terdapat di Aceh.

- See more at: http://m.atjehpost.com/welcome/read/2013/03/04/42377/0/39/Benteng-Indrapatra-sejarah-yang-terlupakan#sthash.qleh0vVg.dpuf

Wednesday, October 12, 2011

Kota Manado






Manado terletak pada suatu daerah yang oleh penduduk asli Minahasa disebut “Wanua Wenang”. Wanua Wenang telah ada sekitar abad XII dan didirikan oleh Ruru Ares yang bergelar Dotu Lolong Lasut bersama keturunannya. Pada abad ke 17 (1623) mulailah nama Manado digunakan untuk mengganti nama “WENANG”. Kota Manado berasal dari kata daerah Minahasa asli “Manarou” atau “Manadou”, yang jika kata-kata itu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sekarang ini mempunyai arti “di jauh” (dimana: jauh-rou atau dou) dan menunjuk tempat sebagai bandar dan pelabuhan tukar menukar barang, benteng loji dan lain-lain. Selanjutnya menurut riwayat perkembangan sejarah Indonesia khususnya di Manado ini, maka Kota Manado telah dikenal bahkan didatangi oleh orang-orang luar negeri sejak abad ke 16, namun abad yang lebih memilik kesan-kesan historis dalam dokumen-dokumen Negara adalah abad adalah abad ke 17 yaitu pada tahun 1623. Pada tahun tersebut tanah Minahasa-Manado sudah lebih dikenal dan popular diantara orang-orang barat (Eropa), dengan hasil-hasil buminya. Kota Manado atau Manarou/Manadou oleh masyarakat dimaksud sesuatu tempat yang jauh, sebab menurut sejarah Minahasa bahwa pusat Pemerintahan pertama bukan berada di dataran Minahasa tetapi berada di Pulau Manado Tua sekarang (sekarang kerajaan Babontehu). Manado dikenal sebagai kota jauh disekitar tahun 1623 dimana bangsa Spanyol mendirikan benteng di daratan Minahasa khususnya Wanua Wenang. Pada sekitar tahun tersebut, terjadi wabah penyakit di Pulau Manado Tua sehingga benteng dialihkan ke daratan Minahasa. Perkembangan selanjutnya oleh pemerintahan Belanda melalui VOC-nya pada tahun 1657 mendirikan benteng yang dinamai De Nederlandsche Vatigkoid atas perintah Gubernur Simon Cos. Di dalam benteng terdapat Loji untuk perkantoran VOC (pusat pertokoan Pasar 45). Kemudian dengan beslit Gubernur Jenderal Hindia Belanda maka terhitung mulai tanggal 1 Juli 1919, gewest Manado ditetapkan sebagai Staats Gemeente yang kemudian dilengkapi dengan alat-alatnya ialah Dewan Gemeente atau Gemeente Raad yang dikepalai atau diketuai oleh Walikota (Burgemeester). Tahun 1951 : Gemeente Manado dijadikan daerah bagian Kota Manado dari Minahasa sesuai Keputusan Gubernur Sulawesi Nomor/tanggal 3 Mei 1951 No.223 Tanggal 7 April 1951 terbentuklah Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) periode 1951-1953 sesuai Keputusan Gubernur Sulawesi No. 14. Tahun 1953 : Daerah Bagian Kota Manado diubah statusnya menjadi daerah Kota Manado, sesuai peraturan Pemerintah Nomor 42/1953 Peraturan Pemerintah Nomor 15/1954. Tahun 1954 : Manado menjadi daerah otonom yang berhak mengatur rumah tangganya sendiri, sesuai PP No. 45 tahun 1953 PP Nomor 56 tahun 1954. Tahun 1957 : Manado menjadi Kotapraja, sesuai Undang-Undang No. 1 Tahun 1957. Tanggal 17 Oktober 1958 : Praja Manado. Tahun 1959 : Kotapraja Manado ditetapkan kedudukannya sebagai Daerah Tingkat II Manado, sesuai Undang-Undang No. 29 tahun 1959. Tahun 1965 : Kotapraja Manado disempurnakan menjadi Kotamadya Manado, dipimpin oleh Walikota Kepala Daerah Tingkat II sesuai Undang-Undang No. 18 Tahun 1965 dan disempurnakan lagi menjadi Walikotamadya Daerah Tingkat II, sesuai dengan Undang-Undang No. 5 Tahun1974 tentang pokok-pokok Pemerintahan di daerah. Tahun 1999 : Kotamadya Manado diubah menjadi Kota Manado, sesuai dengan UU No. 22 tentang Pemerintahan Daerah. Dengan keputusan DPRD-GR Kotamadya Manado No. 17/DPRD-GR/68 tanggal 12 September 1968, hari lahir kota Manado ditetapkan tanggal 14 Juli 1623, dengan penjelasan secara fiksasi bahwa : tanggal 14, diambil dari tanggal 14 Pebruari 1946, suatu peristiwa heroik di kota ini yang kemudian terkenal sebagai Peristia Merah Merah Putih. Pada waktu itu bukan hanya putera-putera daerah bangkit menentang penjajahan kolonial belanda tetapi juga untuk pertama kalinya nama Manado disebut-sebut dan digunakan dalam surat resmi. Bulan Juli diambil dari bulan resminya Manado sebagai Gemeente dan tahun 1623 diambil dari tahun dimana telah ada pemerintah yang teratur dengan dibangunnya benteng oleh Spanyol atas perintah Gubernur Spanyol di Manila. Oleh karena penjabaran dari ketiga peristiwa penting tersebut maka pada tanggal 14 Juli 2004 Kota Manado merayakan HUTnya yang ke 381 Penduduk Suku Bangsa Saat ini mayoritas penduduk kota Manado berasal dari suku Minahasa, karena wilayah Manado merupakan berada di tanah/daerah Minahasa. Penduduk asli Manado adalah suku Bantik, suku bangsa lainnya yang ada di Manado saat ini yaitu suku Sangir, suku Gorontalo, suku Mongondow, suku Arab, suku Babontehu, suku Talaud, suku Tionghoa, suku Siau dan kaum Borgo. Karena banyaknya komunitas peranakan arab, maka keberadaan Kampung Arab yang berada dalam radius dekat Pasar '45 masih bertahan sampai sekarang dan menjadi salah satu tujuan wisata agama. Selain itu terdapat pula penduduk suku Jawa, suku Batak, suku Makassar dan suku bangsa lainnya. Agama Gereja GMIM Sentrum Manado Agama yang dianut adalah Kristen Protestan, Islam, Katolik, Hindu, Buddha dan agama Konghucu. Berdasarkan sensus penduduk tahun 1999, jumlah Muslim di Manado mencapai 49 persen, sedangkan Kristen 51 persen. Namun data tahun 2003 menunjukkan persentase jumlah pemeluk Islam dan Kristen sama, yakni 50:50.[3] Meski begitu heteroginnya, namun masyarakat Manado sangat menghargai sikap hidup toleran, rukun, terbuka dan dinamis. Karenanya kota Manado memiliki lingkungan sosial yang relatif kondusif dan dikenal sebagai salah satu kota yang relatif aman di Indonesia. Sewaktu Indonesia sedang rawan-rawannya dikarenakan goncangan politik sekitar tahun 1999 dan berbagai kerusuhan melanda kota-kota di Indonesia. Kota Manado dapat dikatakan relatif aman. Hal itu tercermin dari semboyan masyarakat Manado yaitu Torang samua basudara yang artinya "Kita semua bersaudara". Bahasa Bahasa digunakan sebagai bahasa sehari-hari di Manado dan wilayah sekitarnya disebut bahasa Melayu Manado (Bahasa Manado). Bahasa Manado menyerupai bahasa Indonesia tetapi dengan logat yang khas. Beberapa kata dalam dialek Manado berasal dari bahasa Belanda, bahasa Portugis dan bahasa asing lainnya. Budaya dan Gaya Hidup Musik tradisional dari Kota Manado dan sekitarnya dikenal dengan nama musik Kolintang. Alat musik Kolintang dibuat dari sejumlah kayu yang berbeda-beda panjangnya sehingga menghasilkan nada-nada yang berbeda. Biasanya untuk memainkan sebuah lagu dibutuhkan sejumlah alat musik kolintang untuk menghasilkan kombinasi suara yang bagus. Secara umum kehidupan di Kota Manado sama dengan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Pusat kota terdapat di Jalan Sam Ratulangi yang banyak dibangun pusat-pusat pembelanjaan yang terletak di sepanjang jalur utara-selatan yang juga dikenal dengan tempat yang memiliki restoran-restoran terkenal di Manado. Akhir-akhir ini Manado terkenal dengan makin menjamurnya mal-mal dan restoran-restoran yang dibangun di sepanjang pantai yang memanfaatkan pemandangannya yang indah di saat menjelangnya matahari terbenam. Kawanua Masyarakat Manado juga disebut dengan istilah "warga Kawanua". Walaupun secara khusus Kawanua diartikan kepada suku Minahasa, tetapi secara umum penduduk Manado dapat disebut juga sebagai warga Kawanua. Dalam bahasa daerah Minahasa, "Kawanua" sering diartikan sebagai penduduk negeri atau "wanua-wanua" yang bersatu atau "Mina-Esa" (Orang Minahasa). Kata "Kawanua" diyakini berasal dari kata "Wanua". Kata "Wanua" dalam bahasa Melayu Tua (Proto Melayu), diartikan sebagai wilayah pemukiman. Sementara dalam bahasa Minahasa, kata "Wanua" diartikan sebagai negeri atau desa.