Sunday, December 29, 2013

Jejak Kejayaan Gowa di Benteng Rotterdam


Fort Rotterdam atau Benteng Ujung Pandang (Jum Pandang) adalah sebuah benteng peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo.Letak benteng ini berada di pinggir pantai sebelah barat Kota Makassar, Sulawesi Selatan.

Benteng ini dibangun pada tahun 1545 oleh Raja Gowa ke-9 yang bernama I manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tumapa'risi' kallonna. Awalnya benteng ini berbahan dasar tanah liat, namun pada masa pemerintahan Raja Gowa ke-14 Sultan Alauddin konstruksi benteng ini diganti menjadi batu padas yang bersumber dari Pegunungan Karst yang ada di daerah Maros. Benteng Ujung Pandang ini berbentuk seperti seekor penyu yang hendak merangkak turun ke lautan. Dari segi bentuknya sangat jelas filosofi Kerajaan Gowa, bahwa penyu dapat hidup di darat maupun di laut. Begitu pun dengan Kerajaan Gowa yang berjaya di daratan maupun di lautan.

Nama asli benteng ini adalah Benteng Ujung Pandang, biasa juga orang Gowa-Makassar menyebut benteng ini dengan sebutan Benteng Panyyua yang merupakan markas pasukan katak Kerajaan Gowa. Kerajaan Gowa-Tallo akhirnya menandatangani perjanjian Bungayya yang salah satu pasalnya mewajibkan Kerajaan Gowa untuk menyerahkan benteng ini kepada Belanda. Pada saat Belanda menempati benteng ini, nama Benteng Ujung Pandang diubah menjadi Fort Rotterdam. Cornelis Speelmansengaja memilih nama Fort Rotterdam untuk mengenang daerah kelahirannya di Belanda. Benteng ini kemudian digunakan oleh Belanda sebagai pusat penampungan rempah-rempah di Indonesia bagian timur.

Di kompleks Benteng Ujung Pandang kini terdapat Museum La Galigo yang di dalamnya terdapat banyak referensi mengenai sejarah kebesaran Makassar (Gowa-Tallo) dan daerah-daerah lainnya yang ada di Sulawesi Selatan. Sebagian besar gedung benteng ini masih utuh dan menjadi salah satu objek wisata di Kota Makassar.


Adapted: wikipedia - and other sources


Tuesday, November 26, 2013

Kain Ulos

 


 Ulos atau sering juga disebut kain ulos adalah salah satu busana khas Indonesia. Ulos secara turun temurun dikembangkan oleh masyarakat Batak, Sumatera. Dari bahasa asalnya, ulos berarti kain. Cara membuat ulos serupa dengan cara membuat songket khas Palembang, yaitu menggunakan alat tenun bukan mesin.

Warna dominan pada ulos adalah merah, hitam, dan putih yang dihiasi oleh ragam tenunan dari benang emas atau perak. Mulanya ulos dikenakan di dalam bentuk selendang atau sarung saja, kerap digunakan pada perhelatan resmi atau upacara adat Batak, namun kini banyak dijumpai di dalam bentuk produk sovenir, sarung bantal, ikat pinggang, tas, pakaian, alas meja, dasi, dompet, dan gorden.

Ulos juga kadang-kadang diberikan kepada sang ibu yang sedang mengandung supaya mempermudah lahirnya sang bayi ke dunia dan untuk melindungi ibu dari segala mara bahaya yang mengancam saat proses persalinan.

Sebagian besar ulos telah punah karena tidak diproduksi lagi, seperti Ulos Raja, Ulos Ragi Botik, Ulos Gobar, Ulos Saput (ulos yang digunakan sebagai pembungkus jenazah), dan Ulos Sibolang.

Ulos....

Ulos....

Berbicara mengenai penggunaan ulos dalam masyarakat Batak adalah hal yang menarik, bukan hanya karena peranan ulos sangat dominan dalam setiap kegiatan adat dalam masyarakat Batak Toba, tetapi karena akhir-akhir ini ada kontroversi pemahaman dan penafsiran tentang makna ulos di antara orang Kristen berlatar belakang Batak.

Ada yang menerima dan ada yang menolak sama sekali penggunaannya (membakar ulos) dengan argumentasinya masing-masing. Dan yang menarik, baik yang menerima maupun yang menolak sama-sama mengaku bertolak dari Alkitab.

Ulos sebagai hasil peradaban masyarakat Batak pada kurun waktu tertentu, mengandung makna ataupun pesan penting yang hendak disampaikan dalam penggunaannya.

Berikut sedikit pembahasan Ulos...

Agar masalah pembahasan tidak terlalu luas dan lebih terfokus pada masalah dan tujuan dilakukan batasan hanya pada masyarakat Batak Toba sebagai salah satu sub-suku Batak (orang Batak terdiri dari Batak Toba, Angkola, Pakpak, Karo, Simalungun), dan masyarakat Batak Toba yang dimaksud dalam tulisan ini adalah orang-orang Batak yang sudah Kristen, sebab bagi orang Batak pra atau non Kristen, penggunaan ulos ini bukan masalah.

Pengertian
Ulos adalah sejenis pakaian yang berbentuk selembar kain tenunan khas Batak dengan pola dan ukuran tertentu yang digunakan untuk melindungi tubuh. Menurut catatan beberapa ahli tekstil, ulos dikenal masyarakat Batak pada abat 14 sejalan dengan masuknya alat tenun dari India. Artinya, sebelum masuknya alat tenun ke tanah Batak, masyarakat Batak belum mengenal ulos. Dan dengan demikian belum juga ada budaya memberi dan menerima ulos (mangulosi = mengenakan ulos) sebagaimana yang sering dilakukan masyarakat Batak pada acara-acara adat. Jadi dapat dikatakan ulos adalah hasil peradaban masyarakat Batak pada kurun waktu tertentu. 

Nama Dan Jenis Ulos Batak
Ulos Batak diberi nama berdasarkan besar dan kecilnya ulos, dan berdasarkan teknik pembuatan dan lukisan/hiasan yang dituangkan di dalam ulos, yaitu: (1). Ulos Pinunsasaan (ulos besar yang merupakan induknya ulos). (2). Ragi idup (ragi hidup). (3). Ulos Sibolang (ulos berwarna-warni/belang). (4). Sitoluntuho (ulos dengan tiga garis). (5). Mangiring (ulos kecil untuk gendongan anak kecil). (6). Bintang Maratur (ulos besar, bintang teratur). (7). Ragi Hotang (ragi yang kuat-ulos kecil). Masih banyak lagi nama-nama ulos di luar yang tujuh ini, tetapi yang masih ada dansering digunakan hingga saat ini hanyalah yang telah disebutkan di atas.

Ditinjau dari segi fungsi pemakaian ulos, ada banyak jenis ulos yakni: (1). Ulos Pasupasu (ulos berkat -diserahkan pada saat penyampaian doa berkat). (2). Ulos Parhehe (ulos membangkitkan semangat- dikenakan di atas bahu). (3). Ulos Pargomos (ulos sebagai tali di kepala). (4). Ulos Parhibas (sikap siaga-diikatkan di pinggang). (5). Ulos Parompa (Pengayom- digunakan menggendong). (6). Ulos Pangapul (penghiburan – diberikan kepada orang yang berduka). (7). Ulos Bulangbulang (menobatkan pemimpin-diberi kepada pemimpin atau   orang yang berjasa banyak). (8). Ulos Pansamot, diberikan orang tua pengantin wanita kepada orang tua pengantin laki-laki. (9). Ulos Hela (ulos menantu), diberikan orang tua pengantin wanita kepada kedua mempelai. (10). Ulos Saput (pembalut) untuk orang yang meninggal, diserahkan oleh pihak  keluarga istri. (11). Ulos Tujung (penutup kepala), dikenakan oleh suami atau istri yang masih muda, yang ditinggalkan oleh pasangan hidupnya (meninggal). (12). Ulos Pargomgom (mengayomi) diberikan oleh kakek/nenek kepada cucunya. (13). Ulos Mulagabe/Tondi, diserahkan pihak orang tua si istri (hulahula) kepada menantu dan putrinya saat menunggu kelahiran anak. (14). Ulos Holong (kasih), pemberian dan sarana untuk mendoakan pengantin.

Di samping jenis yang disebutkan di atas, masih ada ulos na so ra buruk (ulos yang tidak pernah aus atau lapuk). Ini bukan dalam bentuk kain tenunan tetapi berbentuk in natura yakni sebidang tanah. Alasan pemberian nama ini bagi sebidang tanah yang diserahkan oleh pihak hulahula (orang tua si istri) kepada putri dan menantunya, tidak disinggung oleh Vergouwen dengan jelas. Menurut hemat saya ulos na so ra buruk (tanah) harus dipahami dalam arti simbolis, di mana tanah memiliki peran penting bagi manusia untuk kelangsungan hidupnya. Jadi tanah pemberian disebut sebagai ulos na so ra buruk menunjuk pada relasi sekaligus perhatian yang tidak akan pernah putus dari pihak hulahula kepada keluarga menantunya.

Penggunaan Ulos Dalam Acara Adat Batak
Pada awalnya ulos adalah merupakan pakaian sehari-hari masyarakat Batak sebelum datangnya pengaruh Barat. Perempuan Batak yang belum menikah melilitkannya di atas dada, sedangkan perempuan yang sudah menikah dan punya anak cukup melilitkannya di bawah dada. Ulos juga dipakai untuk memangku anak (parompa), selendang (sampesampe ) dan selimut di malam hari saat kedinginan.

Secara spesifik, pada masa pra-Kristen, ulos sehari-harinya dijadikan medium (perantara) pemberian berkat, seperti dari mertua atau hulahula kepada menantu, kakek- nenek kepada cucu, tulang (paman) kepada bere (anak dari saudaranya perempuan), raja kepada rakyat. Dalam perkembangan sejarah nenek moyang orang Batak, kostum atau tekstil (pakaian) sehari-hari ini menjadi simbol dan medium pemberian pada acara adat Batak. Menurut Vergouwen, ulos menjadi satu di antara sarana yang dipakai oleh hulahula untuk mengalihkan sahala-(wibawa) nya kepada boru-(putri dan menantu) nya. Ulos itu dibentangkan menutupi badan bagian atas dari si penerima, diiringi dengan kata-kata “sai horas ma helanami maruloshon ulos on, tumpahon ni Ompunta martua Debata dohot tumpahon ni sahala nami” (selamat sejahteralah kau menantu kami, semoga peruntungan baik menjadi milikmu dengan memakai kain ini dan semoga berkat Tuhan yang awal dan sahala kami menopangmu) Sebagai imbalan pihak si penerima memberi piso dalam bentuk uang dan makanan.

Secara umum pemberian ulos dilaksanakan pada acara adat Batak yaitu: saat pernikahan; tujuh bulan ketika mengandung anak pertama; waktu kemalangan (meninggal). Pada acara pernikahan pihak hulahula memberikan tiga lembar ulos (dua helai untuk orang tua pengantin laki-laki: ulos pansamot dan pargomgom; satu helai untuk menantu yang disebut ulos hela). Ketika memberikan ulos pansamot pihak hulahula mengucapkan kata-kata yang mengandung pesan dan harapan:

“On ma ulos pansamot lae, asa gogo hamu mansamot tu joloanon, mangalului sipanganon ni borungku naung gabe parumaenmu, siulosi pahompu di anak, siulosi pahompu di boru, donganmu sarimatua” (Inilah ulos pansamot =mencari nafkah, agar kamu kuat mencari nafkah bagi kebutuhan puteri saya yang telah menjadi menantumu; ulos ini menghangatkan cucu laki-laki maupun perempuan, sebagai teman hingga akhir hayatmu). Demikian juga ketika memberikan ulos pargomgom disampaikan juga pesan dan harapan: “On ma ulos pargomgom di hamu, manggomgom pahompu anak, menggomgom pahompu boru situbuhonon ni parumaenmu tu joloanon. Horas ma hamu manggomgom parumaenmi” (Inilah ulos pargomgom= pengayom bagi kalian, mengayomi cucu laki-laki dan perempuan yang akan dilahirkan oleh menantumu pada hari yang akan datang. Selamatlah kalian mengayomi menantumu).

Acara adat kedua adalah pada masa-masa anak perempuan yang sudah menikah menunggu kelahiran anak pertama, yang disebut acara “pasahat ulos tondi/mulagabe”. Acara ini bertujuan untuk menguatkan jiwa dan semangat si wanita agar menjaga kehamilannya dengan baik, sekaligus permohonan kepada Tuhan agar si bayi dapat lahir dengan semalat demikian juga ibu yang melahirkannya.

Vergouwen mensinyalir kain ini dianggap memiliki daya istimewa yang mampu melindungi dan memberikan berkat yang didambakan, dan akhirnya kain ini akan menjadi benda keramat bagi pemiliknya seketurunan. Apabila dilihat dari ungkapan atau syair yang disampaikan pihak hulahula pada saat menyerahkan ulos ini, apa yang disinyalir oleh Vergouwen nampaknya perlu dicermati dan ini nanti akan ditinjau pada bagian berikut.

Kata-kata yang disampaikan pada penyerahan ulos ini: “ On ma ulos mula gabe di hamu, ulos sibahen na las badan dohot tondimuna. Asi ma roha ni Tuhan dipargogoi hamu, lumobi ho inang, asa tulus na taparsinta I jaloonmuna sian Tuhan. Horas ma hamu, horas ma hita paima haroan nanaeng pasahaton ni Tuhan di hita” (Inilah ulos mula gabe bagi kamu, ulos yang menghangatkan badan dan rohmu. Kiranya Tuhan memberi kekuatan khususnya bagi putriku, agar apa yang kita harapkan dapat terkabul. Selamatlah kalian, selamatlah kita menantikan kelahiran anak yang diberikan diberika oleh Tuhan).

Acara adat ketiga adalah pada waktu kemalangan (anggota keluarga meninggal dunia). Sesuai dengan fungsinya, ulos yang diserahkan oleh hulahula ada lima yakni : ulos parsirangan, ulos saput, ulos tujung, ulos sampetua, ulos holong.

Ulos parsirangan adalah ulos penutup jenazah seorang yang belum berumah tangga. Makna pemberian ulos ini adalah sebagai tanda bahwa pihak hulahula tetap mengasihi yang meninggal hingga akhir hayatnya dan waktu meninggalpun diberangkatkan dengan baik.

Ulos saput secara hurufiah berarti pembungkus. Ulos parsirangan dan ulos saput fungsinya sama, yaitu menutup jenazah dan maknanya pun sama. Hanya istilah yang membedakan, kalau bagi yang belum berkeluarga disebut ulos parsorangan dan diserahkan oleh saudara laki-laki dari si ibu yang kemalangan. Sedangkan bagi yang sudah berkeluarga disebut saput dan yang menyerahkan adalah orang tua dari sang isteri.

Ulos tujung adalah yang dikerudungkan kepada suami atau isteri yang ditinggal mati. Bila seorang ibu ditinggal mati suami, maka hulahulanya yang memberikan tujung. Bila seorang bapak ditinggal mati isteri, maka tulang (saudara laki-laki dari orang tua si ibu) yang menyerahkan. Ulos ini sebagai tanda bahwa si isteri atau suami yang ditinggal mati sedang dalam keadaan berduka dan membutuhkan dukungan dari sanak-saudara dan sahabat untuk menguatkan serta membangkitkan semangatnya agar mampu menghadapi serta memenangkan dukacita tersebut.

Ulos sampetua adalah ulos yang diberikan kepada seorang nenek atau kakek yang ditinggal mati oleh pasangannya. Kalau yang diberi itu namanya ulos tujung berarti masih ada kemungkinan untuk menikah, tetapi bila namanya ulos sampetua (sampai tua) itu berarti sampai akhir hayatnya tidak akan menikah lagi. Yang menyerahkan adalah saudara laki-laki dari orang tua si ibu atau suami yang ditinggal mati.

Ulos holong adalah ulos yang diberikan kepada anak-anak almarhum/almarhumah dan dikenakan di atas pundak mereka. Makna pemberian ini adalah sekalipun orang tua mereka meninggal tetapi kasih dan kehangatan persekutuan dengan keluarga hulahula senantiasa terpelihara, seraya mendoakan mereka agar tetap dalam lindungan yang Maha Kuasa.

Dari uraian di atas jelas terlihat bahwa bagi orang Batak bukan ulos itu yang terpenting, tetapi kata-kata (berkat atau pesan) yang disampaikan bersama-sama pada saat mengenakan ulos itu kepada orang yang seharusnya menerimanya. Dengan demikian yang menjadi pertanyaan, bolehkah orang Kristen menggunakan ulos, yang merupakan penemuan orang Batak pra-Kristen? Apakah kalau ulos digunakan dalam acara-acara adat Batak bukan merupakan pelestarian sinkretisme yang berdampak pada merosotnya penghayatan kekristenan itu dalam kehidupan bergereja? Hal inilah yang akan dibahas pada bagian tinjauan etika Kristen terhadap penggunaan ulos Batak berikut ini.



Simbol dan Makna
Dalam kegiatan adat Batak ada banyak simbol-simbol seperti nasi, ikan, beras, air termasuk ulos, yang memiliki makna religius-spiritual. Karena tulisan ini berbicara tentang ulos, maka dalam pokok bahasan ini yang dijelaskan adalah mengenai ulos. Dalam adat Batak pada dasarnya ulos adalah salah satu simbol dari kehangatan. Bagi orang Batak ada 3 simbol yang memberi kehangatan yaitu: matahari, api dan ulos. Dari ketiga simbol ini, ulos itulah yang paling nyaman dan akrab. Sebab kehangatan dari mata hari tidak selalu dapat diperoleh setiap waktu, demikian juga dengan api, bila terjadi kesalahan bisa membinasakan. Jadi makna dari simbol ulos dan mangulosi adalah memberi kehangatan kepada yang diulosi. Memberi kehangatan itu adalah karena adanya kasih sayang di antara yang memberi dan yang menerima. Dengan demikian ulos merupakan tanda bahwa di antara kedua pihak pemberi dan penerima, terdapat hubungan yang saling mengasihi dan saling menghormati. Tanda yang mengandung makna hubungan yang indah sekaligus berisi doa, pesan dan harapan untuk kebaikan.

Sebagaimana telah dijelaskan di atas bahwa sebenarnya bukan ulos itu yang menjadi sentral, tetapi kata-kata (pesan atau berkat) yang ingin disampaikan melalui medium ulos. Demikian juga halnya dengan ulos, sebagai hasil karya manusia dengan nuansa seni yang kaya dan indah, pada dasarnya tidaklah memiliki kekuatan magis. Sehingga ulos bukanlah merupakan sarana yang dapat dipakai hulahula untuk mengalihkan wibawanya kepada boru-nya. Ulos yang disampaikan pada acara pernikahan adalah suatu simbol hubungan yang akrab yang baru terjalin dan senantiasa berlangsung hingga akhir hayat dari kedua belah pihak dan sarana mengungkapkan permohonan kepada Tuhan Allah, agar Dia yang memberikan perlindungan dan berkat bagi keluarga yang baru menikah. Terkait dengan pemberian ulos mulagabe atau ulos tondi, yang diberikan kepada wanita yang sedang mengandung anak pertama 5-7 bulan, harus ditegaskan bahwa istilah ulos tondi (roh) tidak memiliki dasar teologis dalam kekristenan. Sebab tidak ada seorang pun manusia yang dapat memelihara atau menyelamatkan roh seseorang.  Karena itu baiklah dinamakan dengan “ulos mulagabe” (ulos awal mempunyai anak). Sekali lagi harus ditekankan, bukan ulos sebagai pelindung dan awal adanya anak pada keluarga tersebut, itu hanya sebagai tanda yang mengandung permohonan agar si ibu tetap dalam perlindungan Tuhan. Pemahaman sedemikin juga berlaku bagi pemberian ulos ketika terjadi kemalangan (meninggal dunia). Jenis dan alamat ulos (ulos parsirangan, saput, tujung, sampetua, ulos holong) kepada siapa disampaikan memiliki makna yang positif, menghibur orang yang kemalangan dan memberi dorongan agar tabah dan berpengharapan ke masa depan yang lebih baik di balik kemalangan yang dialami.

Dengan penjelasan di atas maka sebagai orang Batak, kita boleh menggunakan ulos dalam acara adat istiadat masyarakat Batak, dengan catatan semua yang dilaksanakan adalah memuliakan Tuhan bukan memuliakan sesama manusia. Ini yang harus diingat oleh pemberi ulos (hulahula) agar tidak menempatkan diri sebagai sumber berkat yang harus disanjung oleh yang menerima ulos (boru), tetapi senantiasa memposisikan diri sebagai manusia biasa yang memiliki kelemahan dan dosa, tetapi dilayakkan menjadi alat di tangan Tuhan menjadi berkat bagi keluarga dan lingkungan di mana dia tinggal. Demikian juga sebaliknya dari pihak yang menerima ulos, jangan melihat dan memperlakukan hulahula sebagai sumber berkat dan memiliki derajat kemanusiaan yang lebih tinggi. Di hadapan Tuhan manusia adalah sama-sama mahluk yang dikasihi dan diperlakukan sama di dalam kasihNya. Dengan demikian kita akan terhindar dari sikap mendewakan manusia dan budaya, tetapi juga terdorong untuk terus menerus memohon kepada Tuhan agar kiranya Dia berkenan menguduskan dan memakai adat itu sebagai salah satu sarana penyampaian kebenaran Firman Tuhan dan membangun komunitas masyarakat yang beriman dan berbudaya dengan benar.

Dari seluruh uraian di atas jelas terlihat betapa pentingnya pemahaman yang benar akan makna suatu simbol atau tanda yang digunakan sebagai sarana dalam rangka relasi di antara orang Batak dengan segala upacara adat yang terdapat di dalamnya. Hal yang menarik di sini, ternyata ulos dengan segala nama dan jenisnya memiliki makna religius yang semunya memiliki kaitan dengan yang Maha Kuasa (Tuhan). Ulos bukan hanya sekedar penghangat tubuh atau penghias penampilan, melainkan mengandung makna dan harapan serta permohonan pada Tuhan demi kesejahteraan kerabat yang dikasihinya. Melalui upacara adat pemberian ulos ini, kasih Allah yang tidak terjangkau itu dapat dirasakan dalam relasi antara hulahula dengan boru, orang tua dengan anak, tulang dan bere. Dalam semua acara adat yang dilaksanakan tidak pernah terlepas dari relasi dengan yang Maha Kuasa. Itu berarti dalam acara adat penggunaan ulos diyakini Tuhan juga ikut campur tangan dan seluruh proses kehidupan yang dijalani seseorang.

Karena itu ulos Batak tidak boleh dibakar atau dianggap najis, sebab di dalam ulos tidak terkandung suatu penolakan terhadap kuasa Tuhan. Justru dengan menggunakan ulos dengan teratur berdasarkan nama dan fungsinya, spiritualitas seseorang dapat bertumbuh ke arah yang lebih dewasa dan itu dapat menolongnya untuk semakin merasakan makna kasih Tuhan yang memperlakukan manusia secara manusiawi. Ini mendorong manusia untuk memperlakukan sesamanya dengan manusiawi hingga akhir hayatnya. Penghargaan atas nilai-nilai kemanusiaan dan religius terkandung dalam pemberian ulos Batak, dan dengan demikian terbuka kemungkinan Tuhan bekerja menyatakan kasihNya (termasuk menguduskannya) kepada manusia.


Ulos....

Ulos....


Tidak banyak kajian tentang kain Ulos yang ditemukan di Indonesia.

Ulos merupakan suatu produk penting asal salah satu peradaban tertua di Asia yang sudah ada sejak 4.000 tahun lalu, yakni kebudayaan Batak. Ulos bahkan telah ada jauh sebelum bangsa Eropa mengenal tekstil. Demikian menurut kajian yang dilakukan oleh Miyara Sumatera Foundation.

Selain itu, melebihi nilai estetika yang dapat kita temukan pada sehelai kain tenun tradisional, kain Ulos mengandung makna mendalam pula. Ulos rupanya representasi dari semesta alam. Di masa lampau, perempuan-perempuan Batak bangga menenun, memakainya, dan mewariskannya kepada keluarga sebagai suatu pusaka.

Namun tidak ada banyak kajian terhadap Ulos ditemukan di Indonesia. Melainkan di banyak museum dan universitas di luar negeri seperti Singapura, Amerika, Inggris, dan Belanda. "Saat ini kami tengah membuat kajian dengan melakukan aktivitas advokasi dan kampanye melalui diskusi komunitas mengenai sejarah-budaya kain-kain kuno Sumatra, serta mempersiapkan pameran kain," tutur Nurdiyansah Dalidjo dari

Miyara Sumatera Foundation.
Miyara Sumatera Foundation, sebagai organisasi yang bergerak untuk pelestarian budaya, konservasi alam, dan pengembangan pariwisata Sumatra, terlibat dalam pelestarian kain kuno. Salah satu yang juga menjadi perhatian besar Miyara Sumatera adalah keberadaan kain kapal--selain terhadap sekitar lebih dari 10 koleksi kain asal Lampung.

Nurdiyan menambahkan, kain kapal telah punah akibat letusan Krakatau dan masuknya kolonialisme. Di mana kemudian masyarakat lokal dipaksa untuk membuat tekstil bagi tentara perang, sehingga kini tidak ada lagi penenun yang memproduksi kain kapal. Oleh sebab itu, kain kapal sudah menjadi koleksi paling prestisius di berbagai museum di luar negeri.

Ketua Miyara Sumatera Foundation Irma Hutabarat menegaskan, pengenalan Ulos kepada anak-anak di sekolah amat penting sebagai upaya pengenalan lokal dan pelestarian budaya Batak. "Di sekolah dasar, idealnya anak-anak sudah dikenalkan tentang ulos sebagai unsur penting yang ada dalam budaya Batak."



Sumber :  jojogaolsh.wordpress.com

Tuesday, November 12, 2013

What Your Favorite Art History Figures Would at Your Favorite Art History Figures Would Look Like If They Were Addicted To Technology



 

What Your Favorite Art History Figures Would at Your Favorite Art History Figures Would Look Like If They Were Addicted To Technology

Sometimes the most realistically rendered masterpieces -- even those that best harness the depth of human emotions -- are a little hard to relate to. Thankfully, we've recently stumbled upon "ART X SMART," a Tumblr by Kim Dong-Kyu, that seems to bypass this conundrum in a particularly contemporary way, painting art history's beloved protagonists in a new, technologically-induced light.

The photo series takes art history's greatest hits and, erm, upgrades them with the latest technological gadgets, from iPhones to MacBooks and beyond. Suddenly art's most iconic moments are transformed into a barrage of selfies, uploads and the occasional cracked screen -- essentially, things the modern consumer can relate to.

Behold, art history with a little help from Steve Jobs and company. Let us know which masterpieces you'd like to see plugged-in in the comments.

1. 'Wanderer Above the Sea Of Fog' by Caspar David Friedrich, 1818

2013-11-08-tumblr_mvsatmIQs81t0tb9do1_1280.jpg

2. 'Girl with a Pearl Earring' by Johannes Vermeer, 1665

2013-11-08-tumblr_mvsasnku411t0tb9do1_1280.jpg

3. 'The Bedroom' by Vincent van Gogh, 1888

2013-11-08-tumblr_mvsaqlP0fL1t0tb9do1_1280.jpg

4. 'The Luncheon on the Grass' by Edouard Manet, 1862–1863

2013-11-08-tumblr_mvsapjCRvj1t0tb9do1_1280.jpg

<5. 'Rokeby Venus' by Diego Velázquez, 1647–51

2013-11-08-tumblr_mvsamy0EIU1t0tb9do1_1280.jpg

6. 'The Dream' by Pablo Picasso, 1932

2013-11-08-tumblr_mvsaklwwiO1t0tb9do1_1280.jpg

7. 'L’Absinthe‘ by Edgar Degas, 1876

2013-11-08-tumblr_mvsac9JsjQ1t0tb9do1_1280.jpg

8. 'The Death of Marat’ by Jacques-Louis David, 1793

2013-11-08-tumblr_mvsaankOjK1t0tb9do1_1280.jpg

9. 'L'Homme Au Balcon’ by Gustave Caillebotte, 1880

2013-11-08-tumblr_mvsa51oskq1t0tb9do1_1280.jpg

10. 'Old Man in Sorrow' by Vincent van Gogh, 1890

 Sumber :  http://m.huffpost.com/us/entry/4241949?ncid=edlinkusaolp000000032013-11-08-tumblr_mvs9zyCX5s1t0tb9do1_1280.jpg

Monday, November 11, 2013

Black Tea

Black tea comes from the leaves of a tea plant called Camellia sinensis, a plant that is native to Asia but now cultivated around the world. The leaves are typically plucked by hand. They are then processed to make the dry leaves used for brewing tea. Popular types of black tea include Assam and Darjeeling from India, Keemum and Yunnan from China, Ceylon from Sri Lanka, and Turkish Tea from the eastern Black Sea Region of Turkey. -
How is Black Tea Processed? Black tea is made from leaves that undergo these four steps: 1. Withering. Leaves are spread thinly on trays and either placed in the sun or exposed heated air, depending on the climate. This removes excess water. 2. Rolling. The leaves are twisted and rolled, either by hand or by machines, causing them to break apart. This releases some of the leaf juices. o Tea intended for tea bags often goes through the CTC (crush, tear, curl) method. This grinds the tea leaves into very small pieces that brew quickly. o The Orthodox Method of processing tea is when tea is either rolled by hand or with a type of machinery that preserves the tea leaf. Whole leaf tea is usually processed in this fashion. 3. Oxidization. Leaves are left in a climate-controlled space where they absorb oxygen and increasingly darken. The length of this process determines the type of tea (black, green, oolong, or white). Black tea is 100% oxidized. 4. Drying. The leaves are spread out and dried in the sun or in an oven. Sumber : http://www.blackteaworld.com/what-is-black-tea.html

Sunday, November 10, 2013

Lets focused on Tea Genmaicha

Genmaicha

Genmaicha (TEA-NLT-GE001)Genmaicha is a type of tea made by mixing sencha orbancha with toasted rice. Though there are different types, 1:1 ratio of toasted rice and bancha is regarded as the standard genmaicha. Because the tea leaf used is half the amount of usual tea, genmaicha contains less caffeine compared to sencha or other green tea.

The origin of genmaicha extends back a hundred years to a common practice where people would flavor old tea leaves with leftover kagami-mochi New Year’s rice cakes that had been toasted. The commercialization of this practice replaced the toasted mochi pieces with toasted rice grains, and is now considered a traditional Japanese tea.

Sumber:  http://yunomi.us/glossary/genmaicha/

Lets focused on tea Bancha

Bancha

Takeo - Summer Bancha AoyanagiBancha refers to tea made from leaves picked after the first flush tea* (i.e. summer, autumn harvest tea, leaves and stems collected when trimming the tea plant in early winter and spring) or large leaves that are separated during processing. However, because bancha is found in various regions of Japan, bancha does not always fall under the above description, baring its own definition from region to region.

The term bancha in Tohoku region (northern part of Japan) refers to houjichaKyobanchamade in Kyoto is a tea with big leaf and a smoky flavor.

**There is a bancha called “Kawayanagi” which uses the large tea leaf gathered from the first flush tea. This is, however, very rare for the first flush tea leaves tend to be soft and small.


Sumber: https://yunomi.us/glossary/

Tuesday, November 5, 2013

Sisa kemegahan Buitenzorg (Bogor)

Deep down below us lay a valley of eden, kata Scidmore, pelancong terkenal asal Inggris, tentang keindahan lanskap kaki Gunung Salak seperti tertulis dalamBuitenzorg Kota Terindah di Jawa, Catatan Perjalanan dari Tahun 1860-1930 karya Ahmad Baehaqie. Di lembah inilah terdapat jejak kehidupan beragam bangsa, termasuk Tionghoa dan Arab.

Hingga 1579, hamparan berbukit di kaki Salaka yang diapit Ciliwung dan Cisadane dan dibelah Cipakancilan terdapat Kerajaan Sunda Galuh dengan ibu kota Pakwan Pajajaran.

Sejak 1619, di sedikit sisa reruntuhan akibat pemusnahan oleh Kesultanan Banten, bangsa Eropa, Tionghoa, Arab, dan Sunda (pribumi) terbangun kawasan bernama Buitenzorg. Inilah cikal bakal Kota Bogor.

Seperti pernah diutarakan oleh Scidmore, keindahan Buitenzorg era kolonial amat terkenal di kalangan pelancong Eropa. Namun, Bogor yang sekarang tidak lagi pantas disebut valley of eden. Lingkungan sekarang sudah semrawut dan tak lagi sejuk. 

Namun, masih ada sisa-sisa era Buitenzorg yang bisa dinikmati biarpun terancam sirna. Misalnya, kawasan Tionghoa di Babakanpasar dan Gudang, Bogor Tengah, dan kawasan Arab di Empang, Bogor Selatan. Untuk menyusuri kedua kawasan yang berdekatan, sebaiknya dengan berjalan atau bersepeda.

Sedikit melelahkan, tetapi lebih efektif ketimbang terjebak kemacetan dan kesemrawutan akut di kedua kawasan.

Mari awali perjalanan ke Pulogeulis, Babakanpasar. Di delta Ciliwung ini ada Wihara Mahabrahma (Kelenteng Pan Kho Bio) yang dibangun dalam fase 1619-1743. Inilah tempat ibadah tertua komunitas Tionghoa Bogor. Sebelum dihuni oleh orang Sunda, Tionghoa, Arab, dan pendatang yang kemudian berasimilasi, Pulogeulis diduga tempat pemandian putri-putri Pakwan Pajajaran.

Dalam wihara ada yoni, arca Hindu, patung Kwan Im, tempat dupa berbahan logam kuningan, serta batu petilasan Uyut Gebok, Eyang Jayaningrat, Eyang Sakee, Embah Raden Mangun Jaya, Embah Imam, dan Prabu Surya Kencana. Menurut Sekretaris Wihara Mahabrahma, Candra Kusuma, yoni, arca Hindu, dan batu petilasan ditemukan sebelum pembangunan kelenteng. Patung Kwan Im dan tempat dupa setelah kelenteng dibangun.

Menurut Candra, wihara ini bukan sekadar tempat ibadat umat Buddha, Konghucu, dan Tao. Tempat ini kerap dikunjungi peziarah Sunda Wiwitan, Hindu, dan Islam. Di sini, pernah ada tradisi pencucian barongsai dengan aliran Ciliwung setiap hari kesembilan (Che Kau) sebelum diarak pada hari ke-15 (Cap Go Mei). Sayang, tradisi ini belum terlaksana lagi karena sungai berbau dan tercemar.

Dari Pulogeulis, mari melanjutkan perjalanan ke samping Pasar Bogor, yakni Jalan Kelenteng dan Jalan Pasar. Di sini ada deretan rumah toko dua lantai berornamen kayu dan kaca patri. Usianya lebih dari seabad, tetapi tidak terawat. Masih ada yang menjual celengan, tembikar, anglo, kendil, kendi, piring, dan gelas dari tanah liat, sandal bakiak, keranjang, pengki, besek, baki, serta bakul dari anyaman bambu.

Di belakang Pasar Bogor ada bekas bangunan Kapitan Tionghoa dan Hotel Passer Baroe yang amat menyedihkan. Kedua bangunan ini tertutup semak; banyak coretan; tempat menaruh gerobak, alat pemarut kelapa, dan kandang ternak; dikotori sampah; genangan berbau kurang sedap; ditambah aroma dari lapak kelapa, daging ayam, sapi, dan ikan.

Padahal, menurut budayawan Tionghoa Bogor, Mardi Liem, Passer Baroe dibangun pada 1873 sezaman dengan Hotel Binnenhof (kini Hotel Salak Heritage) dan Hotel Bellevue (pernah menjadi Pasar Ramayana dan kini Bogor Trade Mall). Binnenhof dan Bellevue dikhususkan bagi orang Eropa, Indo-Eropa, dan golongan yang disetarakan. Passer Baroe menjadi pilihan kaum non-Eropa, antara lain Tionghoa dan Arab. Sesudah masa kemerdekaan sampai 1966, hotel pernah dihuni sejumlah keluarga Angkatan Udara Republik Indonesia.

Dari Pasar Bogor bergeserlah ke Jalan Suryakencana yang dulu, yakni Jalan Pos (De Groote Postweg) penghubung Bogor-Sukabumi-Cianjur, diubah menjadi Handelstraat lalu Jalan Perniagaan. Di seberang gerbang utama Kebun Raya Bogor atau di awal Suryakencana terdapat Wihara Dhanagun (Kelenteng Hok Tek Bio). Inilah tempat ibadat kedua yang dibangun komunitas Tionghoa setelah Pan Kho Bio.

Pada zaman kolonial, permukiman di Bogor ditata dan disegregasi berdasarkan warna kulit agar lebih mudah diatur (Wijkenstelsel 1835-1915). Kawasan di kiri kanan Handelstraat di antara Ciliwung dan Cipakancilan untuk komunitas Tionghoa. Diduga, karena kebijakan inilah sebagian komunitas Tionghoa berpindah dari Pulogeulis ke Handelstraat. Di Suryakencana, bangunan rumah toko berderet rapat, tidak atau sedikit halaman, berlantai satu, dua, atau tiga, dan berarsitektur Tionghoa atau Indis.

Menurut Mardi Liem, wihara di utara ibarat kepala naga, sedangkan deretan bangunan di Suryakencana ialah badan naga. Selepas Wijkenstelsel, kalangan pribumi dan pendatang juga bermukim dan bercampur dengan komunitas Tionghoa di kawasan Suryakencana. Kebijakan diskriminatif Orde Baru yang menekan komunitas Tionghoa membuat sejumlah bangunan berarsitektur Tionghoa dan Indis dibongkar menjadi bangunan modern. Namun, masih ada sejumlah bangunan tua, cukup terawat, dan menjadi benda cagar budaya, seperti rumah Kapitan Tan, rumah keluarga Thung, rumah abu keluarga Thung, dan toko roti Tan Ek Tjoan.

Kawasan Tionghoa bukan sekadar Suryakencana. Tengok kawasan Jalan Roda, Gang Aut, Jalan Pedati, Jalan Ranggagading, dan Jalan Lawangsaketeng di sekitar Suryakencana. Di kawasan perniagaan ini dijual aneka komoditas, makanan-minuman (tradisional atau modern), obat, kosmetik, pakaian, kendaraan, buku, dan cendera mata khas atau keperluan peribadatan bagi komunitas Tionghoa.

Di Lawangsaketeng ada deretan toko yang menjual hasil bumi, terutama ikan asin dan hasil laut yang dikeringkan. Lawangsaketeng diduga sudah ada sejak Pakwan Pajajaran yang berarti gerbang dilipat yang dijaga di luar dan dalam.

Arab Empang

Berada di bagian lembah antara Cipakancilan dan Cisadane ada kawasan Arab yang terbentuk seperti kawasan Tionghoa karena kebijakan Wijkenstelsel 1835-1915. Namun, sebelum menjadi kawasan Arab dan bernama Empang, daerah ini bernama Soekaati (Sukahati). Di sinilah pusat pemerintahan Kampung Baru sekaligus cikal bakal Kabupaten Bogor.

Menurut budayawan Arab Bogor, Adenan Taufik, sebutan Empang muncul karena Bupati Kampung Baru Demang Wiranata (1749-1758) membuat kolam ikan di halaman pendapa (kini alun-alun). Lama-kelamaan kawasan itu identik dengan sebutan Empang dan menenggelamkan nama Soekaati.

Alun-alun, lanjut Adenan, diduga sudah ada sejak zaman Pakuan Pajajaran. Kala itu, alun-alun merupakan tempat hukuman picis (penyiksaan) terhadap penjahat yang dipertontonkan ke masyarakat agar kejahatan tidak ditiru. Kini, alun-alun itu tidak ubahnya lapangan berumput bergelombang, tidak terawat, dan jadi lahan parkir kendaraan. Di sekelilingnya terdapat tembok berikut kios pedagang makanan dan minuman. Pada saat hari raya menjadi pasar kambing.

Di sekitar alun-alun berderet toko perlengkapan ibadah, yakni peci, sorban, sajadah, tasbih, sarung, parfum, rebana, dan kurma. Ada juga rumah makan khas yang menyediakan menu nasi kebuli, gulai, sop, sate kambing, serta kue khas, yakni kamir, kaat, dan manom. 

Sejumlah bangunan tua yang bisa dilihat di Empang, antara lain, Masjid An Nur, Masjid Agung Empang, Makam Habib Abdullah bin Mukhsin Al Attas, bekas rumah Bupati Kampung Baru, rumah Kapitan Arab, makam keluarga Dalem Shalawat, dan Bendungan Empang. Di sini juga ada makam Raden Saleh Sjarif Bustaman, maestro seni lukis era kolonial. 

Sisa-sisa bangunan khas komunitas Tionghoa dan Arab sudah tinggal sedikit dan tidak semua berdiri di lanskap yang enak dilihat. Bangunan antik, tua, dan yang zaman dulu amat terkenal malah berada di lingkungan yang amburadul dan tidak terawat. Apakah ini menunjukkan bahwa kita enggan menjadikan Bogor seperti masa Buitenzorg? Padahal, di masa lalu itu, kalangan pelancong amat memuja keindahan kota yang kini berpenduduk hampir 1 juta jiwa ini. (Ambrosius Harto) 



Sumber: Jejak Tionghoa dan Arab di Lembah Salaka